Fikroh.com - Kajian fiqih kali ini akan membahas hukum Meminta Mahar Yang Mahal. Beberapa waktu yang lalu netizen dihebohkan dengan pasangan pengantin baru yang maharnya sepasang sandal jepit dan segelas air bening. Banyak yang menyampaikan pujian dan kekagumannya, karena disaat hampir sebagian besar wanita menuntut mahar yang mahal dan berat kepada calon suaminya. Namun inilah sebenarnya yang sesuai dengan ajaran islam. Namun Apakah meminta mahar yang mahal benar-benar terlarang mengingat mahar adalah hak setiap wanita yang hendak dinikahi? Bagaimana islam melihat hal ini. Berikut Penjelasannya

Meminta mahar yang mahal Bukan berasal dari ajaran Islam cara pandang materialistik yang menguasai pola pikir sebagian manusia ini. Mereka menuntut mahar yang mahal sehingga sebagian mereka tidak meninggalkan majelis akad nikah kecuali masih saja membicarakan masalah mahar, sampai berapa persen diterima!? Seolah-olah mereka baru saja keluar dari arena lomba balap atau habis menawar barang dagangan.

Perempuan bukanlah barang dagangan di pasar pernikahan sehingga kita harus menempuh cara-cara materialistik seperti itu.

Menuntut mahar yang mahal ini memiliki efek negatif, antara lain:

1. Membuat banyak pemuda dan pemudi menjadi bujang lapuk dan perawan tua.

2. Menimbulkan kerusakan moral pada pemuda dan pemudi karena begitu mereka putus asa dari menikah, mereka akan mencari gantinya.

3. Memunculkan beragam penyakit jiwa pada diri pemuda dan pemudi disebabkan sikap represif orang tua, dan ambisi yang gagal karena kecewa.

4. Menjadikan banyak anak bersikap memberontak terhadap kemauan ayah dan ibu mereka, dan melanggar adat kebiasaan yang baik dan mulia warisan nenek moyang.

5. Menjadikan wali tega menipu anak atau saudara perempuan yang menjadi tanggung jawabnya dengan menolak menikahkannya dengan laki-laki saleh yang sekufu karena menyangka laki-laki itu tidak akan bisa memberi mahar yang mahal, dengan harapan akan ada laki-laki lain yang bisa memberi mahar yang lebih banyak meskipun laki-laki itu bukan orang yang baik agama dan akhlaknya serta tidak bisa diharapkan dapat membahagiakan anak atau saudara perempuannya itu.

6. Membebani suami dengan beban di luar kemampuannya yang akan menimbulkan rasa benci dalam hatinya terhadap istri dan keluarganya.

Jika Seperti Itu Efek Negatif Dari Meminta Mahar Yang Mahal, Maka Apa Hukumnya Menurut Syariat?

Dengan memandang dalil-dalil yang ada terkait dengan masalah ini, maka bisa dikatakan bahwa:

1. Perkara Yang Disyariatkan Dalam Masalah Mahar Adalah Memberi Keringanan Dan Tidak Meminta Mahar Yang Mahal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرُهُ

“Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan.”

Ibnu al-Qayyim berkata setelah memaparkan sejumlah hadits berkait masalah mahar, “Hadits-hadits ini mengandung pelajaran bahwa perbuatan meminta mahar yang mahal adalah makruh dalam agama, dan bahwa itu akan mengurangi keberkahannya."

Umar bin al-Khaththab berkata, “Janganlah kalian memahalkan mahar para perempuan, karena kalau itu termasuk tindakan yang mulia di dunia atau satu bentuk ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka orang yang paling pertama dan utama melakukannya di antara kalian adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, kenyataannya tidaklah beliau memberi mahar kepada seorang pun dari istri-istrinya dan tidak pula meminta mahar untuk seorang pun dari anak-anak perempuannya lebih dari dua belas uqiyyah[3]. Selain itu, jika seorang laki-laki dipersulit dengan mahar yang mahal untuk istrinya, maka bisa saja timbul dalam hatinya rasa benci kepada istrinya itu, dan bisa saja dia berkata, ‘Aku telah dibebani (sangat banyak) karena kalian, (sampai-sampai berupa) tali pengikat geriba (tempat air dari kulit).”

Saat ditanya berapa jumlah mahar yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab, “Jumlah mahar yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk istri-istrinya adalah dua belas uqiyyahdan satu nasy (setengah uqiyyah) atau setara dengan lima ratus dirham. Itulah jumlah mahar yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikan kepada istri-istrinya.”

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Siapa yang tergoda oleh hawa nafsunya untuk meminta mahar bagi putrinya lebih besar daripada mahar putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan sebaik-baik makhluk Allah dalam segala keutamaan dan seutama-utama perempuan dalam semua sifat, dan mahar istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ummahat al-Mukminin, maka dia adalah orang bodoh lagi pandir. Ini jika memang ada kemampuan dan kemudahan. Adapun orang miskin dan semisalnya, maka tidak sepatutnya dia memberi mahar yang tidak mampu dia penuhi kecuali dengan susah payah.”

2. Jika Dengan Tindakan Meminta Mahar Yang Mahal Itu Membuat Suami Terbebani Melebihi Kemampuannya, Maka Tindakan Tersebut Tercela.

Disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan Anshar,

عَلَى كَمْ تَزَوَّجَتْهَا

“Dengan mahar berapa engkau menikahinya?”

Laki-laki itu menjawab, “Dengan empat uqiyyah.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,

عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُونَ مِنْ عُرْضِ هَذَا الْجَبَلِ ...

“Dengan empat uqiyyah? Seakan-akan saja kalian menambang (perak) dari sisi gunung ini...”

Dari Abu Hadrad al-Aslami bahwa dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta fatwa tentang mahar perempuan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Berapa mahar yang engkau bayarkan kepadanya?” Laki-laki itu menjawab, “Dua ratus dirham.” Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ كُنْتُمْ تَغْرِفُونَ مِنْ بَطَحَانَ مَا زِدْتُمْ

“Seandainya kalian mengambilnya dari Bathhan, maka kalian tidak akan menambahinya.”

Ini merupakan pengingkaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap tindakan mempermahal mahar dikaitkan dengan kondisi para suami tersebut karena telah disebutkan bahwa mahar untuk anak-anak perempuan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih besar daripada itu. Jadi, patokannya adalah kondisi keuangan suami.

3. Jika Suami Adalah Orang Kaya, Punya Kelapangan Harta, Maka Dia Boleh Memberi Mahar Yang Lebih Banyak Kepada Istrinya.

An-Najasyi menikahkan Ummu Habibah radhiallahu ‘anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberinya mahar atas nama beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak empat ribu (dirham) [sementara mahar para istri beliau yang lain adalah empat ratus dirham]. Kemudian dia mengirim Ummu Habibah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan diantar oleh Syurahbil bin Hasanah.

Dari asy-Sya‘bi, dia berkata, “Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menyampaikan khutbah di hadapan manusia. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau berkata, ‘Ingatlah, jangan kalian memahalkan mahar para perempuan, karena tidaklah sampai kepadaku berita bahwa seseorang telah memberi mahar lebih daripada mahar yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikan, atau diberi mahar lebih daripada itu, maka pasti akan aku masukkan kelebihannya ke dalam Baitul Mal.’ Setelah itu, beliau pun turun dari mimbar. Kemudian beliau dihadang oleh seorang perempuan dari Quraisy. Perempuan itu bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah Kitabullah yang lebih berhak untuk diikuti ataukah pendapatmu?’ Umar menjawab, ‘Bahkan Kitabullah yang lebih berhak. Ada apa?’ Perempuan itu menjawab, ‘Anda baru saja melarang manusia dari memahalkan mahar para perempuan, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman di dalam kitabnya,

وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ

“Sedang kalian telah memberikan kepada salah seorang di antara mereka (istri-istri itu) harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali darinya barang sedikit pun.”

Maka Umar berkata (kepada dirinya sendiri), ‘Semua orang ternyata lebih faqih daripada Umar.’ Dia mengucapkan itu dua atau tiga kali. Kemudian dia kembali menaiki mimbar lalu berkata kepada manusia, ‘Aku tadi telah melarang kalian dari memahalkan mahar para perempuan. Maka ketahuilah, silakan siapa pun berbuat apa saja dengan hartanya sesuai dengan kebijakannya sendiri.”

Kesimpulan: Manusia bertingkat-tingkat dalam hal kaya dan miskin. Karena itu, perlu diperhatikan kondisi keuangan suami. Dia tidak boleh dituntut membayar lebih daripada kemampuannya karena akan membuatnya merasa terdesak untuk berutang dan semisalnya. Jika memang dia orang yang mampu, maka tidak mengapa meminta mahar yang lebih, kecuali jika itu diiringi dengan niat berbangga-banggaan dan semisalnya, maka pada saat itu juga tidak boleh melakukannya. Wallahu a‘lam.

Mahar Adalah Hak Wanita, Bukan Hak Walinya

Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ

“Berikanlah mahar kepada perempuan-perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”

Dan firman-Nya:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ

“Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban.”

Serta ayat-ayat lainnya. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa mahar itu hak perempuan, maka tidak halal bagi ayahnya dan selainnya mengambil mahar itu tanpa seizinnya. Oleh karena itu, Syafi‘iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa suami tidak boleh menyerahkan mahar kepada selain istri atau wakilnya atau orang yang telah diizinkan istri untuk menerimanya.
Lebih baru Lebih lama