Fikroh.com - Mau berkurban sekalian aqiqah apakah boleh? Para ulama berbeda pendapat terkait boleh tidaknya menggabungkan niat berkurban sekaligus beraqiqah juga. Yakni ketika hari kurban atau tanggal tasyrik, kebetulan berbarengan dengan hari aqiqah anaknya.

Saya akan menukilkan fatwa dari Imam Ahmad terkait masalah ini mengambil dari kitab yang sangat spektakuler disusun oleh asy-syaikh "ﺧﺎﻟﺪ ﺍﻟﺮﺑﺎﻁ dan ﺳﻴﺪ ﻋﺰﺕ ﻋﻴﺪ", kitab ini terdiri dari 22 jilid dengan judul "ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻟﻌﻠﻮﻡ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ". Fatwa Imam Ahmad terkait hal diatas terdapat di juz ke-8 hal. 354-355 sebagai berikut :

1. Fatwa pertama menunjukkan Imam Ahmad tidak membolehkannya :

قال عبد اللَّه: سألت أبي عن العقيقة يوم الأضحى، وهل يجوز أن تكون أضحية وعقيقة؟
قال: لا، إما عقيقة، وإما أضحية على ما سمى.
"مسائل عبد اللَّه" (٩٩٤).

"Imam Abdullah bin Imam Ahmad berkata : "aku bertanya kepada Bapakku tentang aqiqah pada hari kurban, apakah boleh kurbannya untuk aqiqah juga?".

Beliau menjawab : "tidak boleh, silakan pilih apakah untuk aqiqah atau untuk kurban sesuai dengan yang ingin disebutkan".

2. Fatwa yang kedua menyebutkan bahwa Imam Ahmad membolehkannya bahkan diriwayatkan beliau juga melakukannya sendiri :

قال في رواية حنبل: أرجو أن تجزئ الأضحية عن العقيقة إن لم يعق.
"المستوعب" ٤/ ٣٨١، "تحفة المودود" ١/ ١٠١

"Imam Ahmad -dalam riwayat Hanbal- berkata : "aku berharap kurban dapat mencukupi dari aqiqah, jika ia tidak beraqiqah (dengan binatang lain -pent.)".

وأخبرني عصمة، في موضع آخر، قال حنبل: إن أبا عبد اللَّه قال: فإن ضحى عنه أجزأت عنه الضحية عن العقوق.
قال: ورأيت أبا عبد اللَّه اشترى أضحية ذبحها عنه وعن أهله، وكان ابنه عبد اللَّه صغيرًا فذبحها -أراه أراد بذلك العقيقة والأضحية- وقسم اللحم وأكل منها.
"تحفة المودود" ص ١٠١

"Telah mengabarkan kepadaku 'Ishmah di tempat lain bahwa Hanbal berkata, Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata : "jika ia berkurban maka kurbannya tersebut mencukupinya dari aqiqah".

Hanbal juga berkata : "aku melihat Imam Abu Abdillah Ahmad membeli hewan kurban untuk disembelih atas namanya dan keluarganya, dan pada waktu itu anaknya yang bernama Abdullah masih kecil, lalu beliau pun berkurban, aku melihat Imam Ahmad menghendaki kurbannya tadi untuk kurban idul adha dan juga untuk aqiqah, kemudian beliau membagikan dagingnya dan memakan sebagiannya".

Pendapat bolehnya two in one dalam menyembelih kurban yakni untuk kurban idhul adha dan aqiqah, pernah difatwakan oleh asy-syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh -mufti 'aam Saudi Arabia pertama, sebelum asy-syaikh bin Baz- dalam salah satu fatwanya :

ﺍﻟﺤﺎﺻﻞ : ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺫﺑﺢ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻋﻦ ﺃُﺿﺤﻴﺔ ﻧﻮﺍﻫﺎ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻛﻔﻰ " ﺍﻧﺘﻬﻰ .
" ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ " ‏( 6/159 ‏)

"...kesimpulannya : "jika ia menyembelih kurban untuk berkurban sekaligus meniatkannya juga untuk aqiqah, maka telah mencukupi".

Sebelum Imam Ahmad, beberapa Tabi'in telah memfatwakan hal yang semisalnya juga seperti Imam Hisyam bin Urwah, Imam Muhammad bin Siriin dan Imam Qotadah. Atsar maqtu' mereka disebutkan dalam al-Mushonafnya karya Imam ibnu Abi Syaibah dan Imam Abdur Rozaq.

Dari kalangan mazhab Syafi'iyyah, yaitu Al-'Alamah Syamsuddin ar-Ramli rahimahullah juga berfatwa sebagaimana diatas dalam kitabnya "ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎج" :

ﻭﻟﻮ ﻧﻮﻯ ﺑﺎﻟﺸﺎﺓ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺣﺔ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻭﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﺣﺼﻼ، ﺧﻼﻓًﺎ ﻟﻤﻦ ﺯﻋﻢ ﺧﻼﻓﻪ . ﺍﻫـ

"Seandainya ia berniat dengan kambing yang disembelihnya untuk kurban dan sekaligus aqiqah, maka itu bisa, berbeda dengan orang yang memiliki pendapat yang berbeda." (dinukil via : http://www.alakhdr.com/?p=797).

Diantara dalil yang dibawakan oleh pihak yang membolehkan adalah diqiyaskan dengan sholat tahiyatul masjid dengan sholat wajib, jika seorang misalnya hanya berkesempatan melaksanakan sholat fardhu ketika masuk masjid sebelum duduk, maka pahala sholat tahiyat juga didapatkannya, sebagaimana juga ketika hari Jum'at bertepatan dengan hari raya, maka mandi hari raya mencakup juga untuk mandi sholat jum'at.

Tim Islam.web memberikan fatwa yang bijak dalam masalah ini, kata mereka :

ولاشك أن الأخذ بهذا القول أولى لمن كانت عنده سعة وقدرة عليه فمن لم تكن له سعة فالأخذ بمذهب أحمد أولى له .

"Tidak diragukan lagi bahwa mengambil pendapat yang pertama (yaitu hewan kurban tidak bisa digabungkan dengan hewan untuk aqiqah) adalah LEBIH UTAMA, bagi yang memiliki kelonggaran rizki, namun bagi yang tidak sedang longgar, maka mengambil mazhab Imam Ahmad lebih utama baginya." Wallahul a'lam.

Penulis: Abu Sa'id Neno Triyono
Lebih baru Lebih lama