Oleh: Wira Mandiri Bachrun

Sebagian kaum muslimin bertanya tentang hukum adzan di telinga bayi yang baru lahir, apakah ini termasuk sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ataukah merupakan kebid’ahan?

Maka melalui artikel sederhana ini, kami coba mengumpulkan ucapan para ulama tentang keabsahanan amalan mengadzani telinga bayi ketika lahir.

Hadits yang berkenaan dengan permasalahan ini, diriwayatkan dari sahabat Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

عَنْ أبِي رَافِعٍ أنَّهُ قَالَ, رَأيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  أذَّنَ فِيْ أذُنِ الحُسَيْنِ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ

“Saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumandangkan adzan di telinga Husain ketika Fatimah melahirkannya. (Beliau mengadzaninya) dengan adzan untuk shalat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Iman Ahmad rahimahullah di dalam Musnadnya, demikian juga diriwayatkan oleh Al Imam At Tirmidzi dan juga Abu Daud rahimahumallah di dalam Sunan keduanya.

Al Imam Tirmidzi rahimahullah setelah membawakan hadits Abu Rafi’ di atas mengatakan,

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Ini adalah hadits yang hasan sahih.”

Asy Syaikh Al Albani rahimahullah sendiri semula menyatakan hadits Abu Rafi’ ini hasan. Di dalam Shahih Sunan Abu Daud dan juga di dalam Shahih Sunan At Tirmidzi beliau menghasankannya. Namun kemudian beliau ruju’ dari penghasanan hadits tersebut.

Di Silsilah Ahadits Dhaifah beliau rahimahullah mengatakan,

فحسنت حديث أبي رافع به في "الإرواء" (4/400/1173) ، والآن وقد طبع - والحمد لله - كتاب البيهقي: "الشعب "، ووقفت فيه على إسناده، وتبين لي شدة ضعفه؛ فقد رجعت عن التحسين المذكور،

“Saya pernah menghasankan hadits Abu Rafi’ di dalam kitab Al Irwa’ (4/400/1173). Sekarang kitab Asy Syu’ab (Syu’abul Iman) karya Al Baihaqi telah dicetak, walhamdulillah. Di dalam kitab tersebut saya mendapati sanadnya dan telah tampak jelas bagi saya parahnya kelemahan hadits tersebut. Maka saya pun menyatakan rujuk dari menilai hadits tersebut sebagai hadits yang hasan.”

Beliau kemudian melanjutkan,

وعاد حديث أبي رافع إلى الضعف الذي يقتضيه إسناده، وهذا مثال من عشرات الأمثلة التي تضطرني إلى القول بأن العلم لا يقبل الجمود، وأن أستمر على البحث والتحقيق حتى يأتيني اليقين

Hadits Abu Rafi’ pun kembali dha’if sebagaimana ini ditunjukkan oleh sanadnya. Ini merupakan contoh dari sekian puluh contoh yang membuat saya membenarkan ucapan bahwa ilmu itu tidak menerima kejumudan (beku, mandeg). Saya akan tetap terus membahas dan melakukan penelitian sampai kematian datang kepadaku.” [1]

Demikian penuturan Syaikh Al Albani.

Akan tetapi terlepas dari shahih atau tidaknya hadits tersebut, sebagian atau bahkan banyak dari para ulama yang mengatakan bahwa adzan di telinga bayi yang baru lahir disyariatkan.

Al Imam An Nawawi rahimahullah menyebutkan sebagai berikut:

روينا في سنن أبي داود والترمذي وغيرهما، عن أبي رافع رضي الله عنه مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال؛ رأيتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم أذّن في أُذن الحسين بن عليّ حينَ ولدتهُ فاطمةُ بالصلاة ـ رضي الله عنهم ـ قال الترمذي: حديث حسن صحيح.

Kami telah meriwayatkan di dalam Kitab Sunan Abu Dawud dan At Tirmidzi dan selain keduanya dari Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu maula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata,  “Saya telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumandangkan adzan di telinga Al Husain bin Ali di saat Fathimah baru saja melahirkannya dengan adzan untuk shalat semoga Allah meridhai mereka semua”.

Imam At Tirmidzi mengatakan, “Haditsnya hasan shahih.”

Kemudian beliau mengatakan,

قال جماعة من أصحابنا: يُستحبّ أن يؤذّن في أُذنه اليمنى ويُقيم الصلاة في أُذنه اليسرى قد روينا في كتاب ابن السني، عن الحسين بن عليّ رضي الله عنهما قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فأذَّنَ في أُذُنِهِ اليُمْنَى، وأقامَ في أُذُنِهِ اليُسْرَى لَمْ تَضُرّهُ أُمُّ الصّبْيانِ".

Sekumpulan dari ulama madzhab kami mengatakan, “Mustahab hukumnya adzan di telinga kanan bayi dan iqomat di telinga kirinya.”

Dan sungguh kami telah meriwayatkan di dalam Kitab Ibnus Sunniy dari Al Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

"مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فأذَّنَ في أُذُنِهِ اليُمْنَى، وأقامَ في أُذُنِهِ اليُسْرَى لَمْ تَضُرّهُ أُمُّ الصّبْيانِ".

“Barangsiapa yang dilahirkan baginya seorang anak, kemudian dia mengadzaninya di telinganya yang kanan dan mengiqomatinya di telinganya yang kiri, maka Jin Ummu Shibyan tidak akan dapat membahayakannya.”

Demikian nukilan dari Al Imam An Nawawi di dalam Al Adzkar. [2]

Al Mubarokfury dalam Tuhfatul Ahwadzi, mengatakan meskipun hadits tersebut dhaif tapi tetap boleh diamalkan sebab sanad haditsnya saling menguatkan.

Beliau mengatakan,

قَوْلُهُ (وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ) أَيْ عَلَى حَدِيثِ أَبِي رَافِعٍ فِي التَّأْذِينِ فِي أُذُنِ الْمَوْلُودِ عَقِيبَ الْوِلَادَةِ فَإِنْ قُلْتُ كَيْفَ الْعَمَلُ عَلَيْهِ وَهُوَ ضَعِيفٌ لِأَنَّ فِي سَنَدِهِ عَاصِمَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ كَمَا عَرَفْتَ

Ucapan Al Imam At Tirmidzi "Wal amalu alaihi" maksudnya yang diamalkan adalah hadits Abu Rafi’ yang menyebutkan diadzaninya telinga bayi ketika dilahirkan. Apabila ditanya, “Bagaimana mungkin diamalkan padahal haditsnya lemah, di dalam sanadnya ada Ashim bin Ubaidillah sebagaimana yang telah engkau ketahui?”

قُلْتُ نَعَمْ هُوَ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ يُعْتَضَدُ بِحَدِيثِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا الَّذِي رَوَاهُ أبو يعلي الموصلي وبن السُّنِّيِّ

Maka jawabnya, iya hadits ini memang dhaif.  Akan tetapi dia memiliki penguat dari hadits Al Husain bin Ali radhiyallahu anhuma yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la Al Maushili dan juga Ibnu Sunni.[3]

Jadi kesimpulan beliau, bahwa haditsnya memang asalnya dhaif, namun menjadi hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkan.

Di antara yang menyatakan disyariatkan bahkan disunnahkannya melantunkan adzan dan iqomat di telinga bayi adalah Al Imam Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul Maudud. Beliau bahkan membuat bab,

باب فِي اسْتِحْبَاب التأذين فِي أُذُنه الْيُمْنَى وَالْإِقَامَةِ فِي أُذُنه الْيُسْرَى

Bab: Mustahabnya mengumandangkan adzan di telinga kanan, dan iqomat di telinga kiri.

Lalu beliau pun membawakan riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang disyariatkannya mengadzani dan mengiqomati bayi yang baru lahir.

Demikian juga fadhilatus Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, beliau pernah ditanya tentang hukum adzan di telinga kanan bayi dan iqomat di telinga kirinya. Maka beliau menjawab,

هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات،

Hal tersebut dituntunkan menurut sejumlah ulama. Ada beberapa hadits mengenai hal ini namun ada pembicaraan mengenai kualitas sanadnya. Jika ada seorang mukmin yang melakukannya maka itu adalah suatu hal yang baik karena amalan ini termasuk amalan yang dianjurkan.

والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد،

Hadits tentang masalah ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab dan beliau adalah perawi yang memiliki kelemahan namun terdapat sejumlah riwayat yang menguatkannya.

وقد فعل النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية إبراهيم، ولم يُحْفَظْ عنه أنه أذَّن لمَاَّ وُلِدَ له إبراهيم، سماه إبراهيم ولم يُحْفَظ عنه أنه أذَّن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى، وهكذا الأولاد الذين يؤتى بهم إليه من الأنصار لِيٌحْنِكَهم ويُسَمِّيْهم لم أَقِفْ على أنه أذن في أُذُنِ واحدٍ منهم وأقام،

Ketika Nabi memberi nama untuk anaknya Ibrahim tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa beliau mengumandangkan adzan untuk Ibrahim. Beliau hanya memberi nama bayi beliau dengan nama Ibrahim, namun tidak terdapat riwayat bahwa beliau mengadzani telinga kanan Ibrahim dan mengumandangkan iqomah di telinga kirinya. Demikian pula bayi-bayi yang dibawa ke hadapan beliau dari kalangan Anshar untuk ditahnik dan diberi nama, saya tidak menemukan riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengumandangkan adzan dan iqomah pada telinga bayi tersebut.

ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديثِ التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يَشُدُّ بعضهُا بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لمِاَ جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تَرَكَهُ فلا بأس.

Akan tetapi jika ada yang melakukannya menimbang hadits yang telah kusebutkan maka tidak mengapa karena riwayat-riwayat yang ada sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Maka ada kelonggaran dalam masalah ini. Jika ada yang mengamalkannya maka itu baik karena adanya hadits-hadits dalam masalah ini yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Namun apabila seseorang meninggalkannya juga tidak mengapa”.[4]

Demikianlah penjelasan para ulama tentang hadits mengadzani bayi. Kita lihat memang ada khilaf di antara mereka sehingga dipersilakan bagi yang ingin mengadzani bayi maka ada salafnya, bagi yang tidak mau maka dipersilakan juga.

Tapi hendaknya jangan kemudian sampai menghukumi dengan keras saudara yang mempraktekkan adzan bagi bayi, apalagi sampai mengatakan bahwa itu adalah bid’ah. Akan tetapi yang benar adalah adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini.

RAHASIA BAYI DIADZANI

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan rahasia (hikmah) di balik adzan di telinga bayi. Beliau mengatakan,

سر التأذين وَالله أعلم أَن يكون أول مَا يُقْرَعُ سمع الْإِنْسَان كَلِمَاتُه المتضمنة لكبرياء الرب وعظمتِه وَالشَّهَادَةِ الَّتِي أولُّ مَا يدْخل بهَا فِي الْإِسْلَام فَكَانَ ذَلِك كالتلقين لَهُ شِعاَرُ الْإِسْلَام عِنْد دُخُوله إِلَى الدُّنْيَا كَمَا يُلَقِّنُ كلمةُ التَّوْحِيد عِنْد خُرُوجِهِ مِنْهَا

 “Wallahu a’lam, rahasia di balik mengadzani bayi adalah agar yang diperdengarkan kepada manusia pertama kali adalah ucapan yang mengandung kebesaran Rabb dan keagungan-Nya serta persaksian (syahadat) yang pertama kali memasukkannya ke dalam islam. Ini seakan-akan mentalqinkannya tentang syiar islam ketika memasuki dunia. Sebagaimana dia ditalqinkan dengan kalimat tauhid ketika keluar dari dunia.

وَغَيْرُ مستنكرِ وُصُولُ أثر التأذين إِلَى قلبه وتأثيرُه بِهِ وان لم يشْعرْ مَعَ مَا فِي ذَلِك من فَائِدَة أُخْرَى وَهِي هروب الشَّيْطَان من كَلِمَات الْأَذَان وَهُوَ كَانَ يُرْصِدُه حَتَّى يُولد فيُقَارِنُه للمِحْنَة الَّتِي قَدَّرَهَا الله وشَاءَها فَيسمع شَيْطَانُه مَا يُضْعَفُهُ ويَغِيْظُه أولَّ أَوْقَاتِ تَعَلٌّقِهِ بِهِ

Dan tidak dipungkiri bahwa adzan itu sampai ke hati dan memberikan pengaruh kepada seseorang walaupun kadang tidak disadari. Selain itu ada faidah lain yaitu kaburnya syaithan dari kalimat adzan, di mana syaithan senantiasa mengintai sampai si bayi dilahirkan, lalu menyertainya sebagai ujian yang telah ditetapkan dikehendaki oleh Allah. Dengan dikumandangkannya adzan, maka syaithan pun terpaksa mendengar sesuatu yang melemahkan diri serta membuatnya murka pada saat pertama kali dia menyertai anak manusia.

Beliau kemudian melanjutkan,

وَفِيه معنى آخر وَهُوَ أَن تكون دَعوته إِلَى الله وَإِلَى دينه الْإِسْلَام وَإِلَى عِبَادَته سَابِقَة على دَعْوَةِ الشَّيْطَان كَمَا كَانَت فطْرَةُ الله الَّتِي فطر عَلَيْهَا سَابِقَة على تَغْيِير الشَّيْطَان لَهَا وَنَقله عَنْهَا ولغير ذَلِك من الحكم

Dalam hal itu ada hikmah lain yaitu supaya seruan kepada Allah dan agama islam serta ajakan untuk beribadah kepada-Nya itu mendahului seruan (bisikan) syaithan. Sebagaimana Allah telah Menciptakannya di atas fitrah tersebut untuk mendahului perubahan yang dilakukan syaithan kepadanya. Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah lainnya.”[5]

Saya sendiri ketika lahir putri saya yang pertama, saya tidak mengadzani dan mengiqomatinya. Namun sebagaimana yang diucapkan oleh Al Albani di atas bahwa ilmu itu tidak selaras dengan sikap jumud, setelah menelaah kembali ucapan para ulama, maka putri kedua dan insya Allah anak-anak kami selanjutnya akan kami adzani dan kami iqomati.

Wallahu a’lam semoga bisa memberikan kejelasan tentang permasalahan ini.

Ditulis di Kota Pelajar - Yogyakarta, 07/01/2020

-----------

Catatan Kaki:

[1] Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah,  jilid 13, halaman 272-272.
[2] Al Adzkar, hlm. 286, cetakan Darul Fikr, Beirut.
[3] Tuhfatul Ahwadzi, jilid 5 hlm. 90.
[4] Fatwa beliau bisa didengarkan di sini https://www.youtube.com/watch?v=h-UHdyamr5w
[5] Tuhfatul Maudud, hlm. 37-38, cetakan Muasasah Sulaiman Ar Rajihi.
Lebih baru Lebih lama