Fikroh.com - Memiliki keluarga bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun tahukah kita bahwa salah satu penyebab bahagianya sebuah keluarga dimulai dari istri yang bahagia. Karena kebahagiaan sang istri akan mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan dalam rumah tangga. Diantara manfaat kebahagiaan istreri dalam rumah tangga adalah akan membuat suami dapat melaksanakan fungsinya sebagai kepala keluarga yang harus menjadi imam dalam rumah tangga. Isteri yang berbahagia karena perilaku suami pasti akan ta'at dan patuh terhadap perintah suami. Ia merasakan bahwa sang suami adalah orang yang memberinya kebahagiaan. Hingga saat ia diperintah untuk melaksanakan shalat menjaga diri dan harta suami dan mendidik anak dengan senang hati ia akan melaksanakan. Tak akan terbersit rasa curiga dari isteri kita manakala ia merasa berbahagia.

Imam Syafi'i berkata bahwa,

Kebaikan yang dilakukan suami akan membawa dampak pada isteri sedang keburukan (maksiat) yang dilakukan suami juga membuat sang isteri mudah melaksanakan keburukan (maksiat).”


Bisa jadi di depan isteri kita berlaku baik, namun manakala di belakang dia kita berlaku maksiat, hati dan perasaaan seorang isteri akan berkata lain. Begitu sebaliknya, manakala kita selalu setia pada ikatan perkawinan, tak akan terbersit rasa Curiga dari isteri pada kita.

Kondisi ini akan membuat keluarga kita mudah melaksanakan ibadah. Dengan tegaknya ibadah dalam rumah tangga kita maka insya Allah jilatan api neraka tak mengenai seorang pun dari anggota keluarga kita.

Beberapa kiat Membahagiakan Isteri
Setelah kita mengetahui betapa urgen membuat isteri jadi bahagia, maka selanjutnya adalah upaya apa yang dapat kita lakukan. Ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan untuk membuat isteri jadi bahagia,

Pertama, mengobati hatinya


Kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta dan tingginya jabatan. Tapi ia ada dalam hati. Tumpukan materi dan sanjungan yang tiada henti bukan prasyarat seseorang dapat bahagia. Semuannya bermuara pada hati. Itulah sebabnya maka Rasulullah Saw banyak memberi nasehat agar kita banyak memperhatikan masalah hati. “Dalam diri manusia ada segumpal daging yang apabila ia baik maka baiklah seluruh amalnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pulalah seluruh amalnya.”

Sesungguhnya Allah tiada melihat pada wajah kalian; dan pada jasad kalian, tetapai Ia melihat pada hati kalian.

Karena itu, upaya pertama yang harus kita lakukan agar isteri jadi bahagia adalah dengan mengobati hatinya. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengobati hati seorang isteri. Yang utama adalah seorang suami harus memiliki kelembutan hati dan kepekaan rasa. Ia harus tahu kapan hati isterinya luka. Wanita yang pemalu biasanya hanya menyimpan saja luka hatinya itu. Tanpa mau mengatakan pada siapapun, termasuk pada suaminya.

Karena itulah, Rasul Saw berpesan pada para suami agar berhati-hati dan penuh dengan perasaan menggauli para isteri, karena seperti yang Rasul umpamakan wanita itu bak tulang yang bengkok. Jika terlalu keras diluruskan akan patah, namun jika dibiarkan akan tetap bengkok. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelembutan hati dan kepekaan perasaan sang suami merupakan syarat utama bagi terapi yang lain. Tak ada satu nasehatpun yang dapat diterima isteri kita manakala kita menyampaikannya dengan penuh kemarahan atau menenggang perasaan isteri. Rasulullah Saw memanggil Aisyah ra dengan sebutan ‘Ya humairo’ atau wahai yang pipinya memerah seperti delima. Isteri mana yang tak akan takluk manakala dipanggil dengan sebutan seperti itu?

Al-Qur'an sendiri telah memerintahkan kita untuk mempergauli isteri dengan ma'ruf.

Kedua, Qur'an merupakan obat hati yang mujarab


Allah Ta’ala berfirman, ”Hai manusia sesungguhnya telah datang padamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS: Yunus: 57)

Karena itu, tugas suamilah untuk mendekatkan Qur'an Pada sang isteri. Aktivitas mengajarkan isteri untuk mampu membaca, memahami makna dan mengamalkan isi al-Qur'an merupakan tugas utama yang seringkali kita lalaikan. Tugas ini tak dapat diwakilkan. Namun jika kita memang memiliki kekurangan, baik ilmu maupun bekal, maka kita dapat membuat program dan jadual bagi isteri (dan kita juga tentunya) untuk belajar pada seorang 'alim Jangan biarkan isteri kita melalui hari-hari tanpa membaca Qur'an. Dan jangan biarkan pula isteri kita lebih akrab dengan gadget, koran, teve, ngrumpi, dll ketimbang dengan buku-buku yang dapat membawanya memahami hakikat hidup melalui Qur'an. Aktivitas majelis taklim dan sejenisnya sudah seharusnya kita anjurkan agar diikuti. Begitu pula beragam seminar keislaman merupakan sarana untuk menambah ilmu dan iman isteri kita. Jika perlu buat jadual dan waktu khusus, misal, per-dua bulan harus ikut satu seminar.

Ketiga, penuhi hak-hak isteri


Islam telah mengatur hak dan kewajiban masing-masing. Kebahagiaan rumah tangga akan sangat tergantung sejauh mana hak dan kewajiban itu berjalan. Hak isteri secara umum dibagi dua.

Pertama, hak kebendaan, berupa mahar dan nafkah. Mahar adalah hak isteri. lni berarti uang mahar tak dapat digunakan untuk membeli perabot rumah tangga tanpa persetujuan isteri. Karena peralatan rumahtangga adalah kewajiban suami. bukan kewajiban isteri. Sementara nafkah sendiri termasuk didalamnya pakaian, makanan dan tempat tinggal yang layak sesuai kesanggupan suami. Firman Allah, 

Dan para suami memberi nafkah pada para ibu dan memberi pakaian mereka dengan baik." (QS. Al-Baqarah: 233)

Rasululah Saw bersabda pada Hindun, ”Ambillah dari Abu Sufyan itu seberapa yang cukup untuk nafkah-mu dan nafkah anak-anakmu dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Termasuk pula hak isteri adalah mendapat pembantu rumah tangga atau penolong seandainya ia berhajat pada pembantu.

Yang kedua, hak bukan bersifat kebendaan. Meliputi perlakuan yang baik pada isteri. Rasulullah Saw bersabda, ”Ingatlah, terimalah pesanku untuk berbuat baik pada para isteri. Isteri-isteri itu hanyalah temanmu yang berada di sampingmu. Kamu tidak memiliki apa-apa dan mereka selain berbuat baik. Kecuali jika isteri-isteri itu melakukan perbuatan keji yang jelas, maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau-kalau isteri itu ta'at padamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka." (HR Turmudzi)

Kewajiban suami yang lain dalam hal ini adalah menjaga isteri. Suami wajib menjaga dan memeliharanya dari segala sesuatu yang menodai kehormatan dan harga dirinya. Semua ini merupakan tanda dari sifat cemburu yang disenangi Allah Ta'ala. Sabda Rasul: “Sesungguhnya Allah mempunyai rasa cemburu. Dan sesungguhnya seseorang mu'min mempunyai rasa cemburu. Dan rasa cemburu Allah ialah supaya seseorang hamba tidak melakukan perbuatan haram." (HR Bukhari)

Dengan demikian kebahagiaan isteri akan membawa kita pada terwujudnya rumah tangga yang dipenuhi mawaddah wa rahmah. Wallahu a'lam bishshawab.
Lebih baru Lebih lama