Fikroh.com - Mengetahui fikih mu'amalah sangat penting bagi seorang pedagang atau pengusaha. Karena dalam praktek jual beli erat kaitannya dengan hukum halal dan haram. Dengan memahami fikih jual beli dengan benar akan menjauhkan kita dari praktik haram yang terlarang.

Setidaknya ada 10 macam jual beli yang dilarang dalam agama. Berikut ini adalah penjelasan mengenai hukum Jual Beli Yang Diharamkan Karena Adanya Unsur Kerugian dan Kecurangan.

1. Pembelian Seseorang Terhadap Pembelian Orang Lain


a. Hadits dari Ibn `Umar -Allah meridhainya-, dari Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- beliau berkata: Janganlah seorang menjual pada penjualan saudaranya, dan janganlah seseorang meminang pinangan saudaranya kecuali dia mengizinkannya.

b. Hadits dari Ibn `Umar -Allah meridhainya-, sesungguhnya Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Janganlah sebagian orang dari kalian menjual pada penjualan sebagian dari kalian yang lain.

c. Hadits dari Abu Hurairah -Allah meridhainya-, sesungguhnya Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Janganlah seorang muslim menawar pada tawaran saudaranya.

d. Hadits dari Ibn `Umar -Allah meridhainya-, dari Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Seorang tidak boleh menjual pada penjualan saudaranya, kecuali setelah dibeli atau ditinggalkan.

e. An-Nawawiy -Allah merahmatinya- berkata: Adapun bentuk pembelian seorang pada pembelian saudaranya yaitu: contohnya seperti seseorang mengatakan kepada orang yang membeli suatu barang dalam masa pilihan: batalkan jual beli ini dan aku akan jual seperti dia dengan harga yang lebih murah, atau lebih berkualitas seharganya, dan bentuk serupa lainnya. Hukum jual beli bentuk ini haram. Sebagaimana juga diharamkan pembelian seseorang pada pembelian saudaranya, dengan bentuk seperti seseorang berkata kepada penjual dalam masa pilihan: batalkan jual beli ini dan aku akan membelinya darimu dengan harga lebih mahal, dan bentuk serupa lainnya.

f. Adapun bentuk penawaran pada tawaran saudaranya: yaitu dalam bentuk contoh: seorang pemilik barang bersepakat dengan orang yang mau membeli akan tetapi mereka berdua belum melangsungkan transaksi. Kemudian datang orang lain berkata kepada penjual: aku saja yang membelinya. Jual beli bentuk ini hukumnya haram karena setelah penentuan harga. Adapun penawaran pada barang yang dijual atas orang yang menambah harga maka hukumnya tidak haram.

g. Al-Hafizh Ibn Hajar berkata: `Ulama fiqih berkata: penjualan pada suatu penjualan hukumnya haram, dan begitu juga hukumnya pembelian pada suatu pembelian, hukum ini sebagaimana yang ada pada konsesus muslimin.

h. Segi keharaman dalam bentuk jual beli ini adalah adanya unsur merugikan terhadap seorang muslim serta merusak, karena bentuk suatu larangan menuntut adanya unsur kerusakan.

2. Jual Beli Penglarisan (An-Najsyu)


An-Najsyu secara etimologi yaitu: Penghalauan, sebagaimana contoh perkataan: Burung-burung berhalauan, artinya: burung-burung berhalauan tatkala dihalau dari tempatnya.

Makna an-Najsyu secara terminologi yaitu: Seseorang menambah harga suatu barang dagangan, dan dia tidak bermaksud untuk membelinya melainkan untuk menjadikan orang lain mau membelinya dan menjebaknya, atau memuji barang dagangan dengan hal-hal yang tidak ada agar melariskan.

Dinamakan dengan penglarisan (najsyu) karena pelaku penglarisan (an-najisy) menghalau keingingan membeli kepada suatu barang dagangan yang terjadi melalui kerjasama dengan penjual. Dan mereka berdua sama-sama berdosa. Dan terjadi tanpa sepengetahuan penjual, maka pelaku penglarisan itu yang berdosa. Terkadang juga terjadi melalui penjual sendiri, seperti seorang penjual yang mengatakan bahwa dia membeli barang dagangan tersebut dengan harga lebih mahal dari harga jual untuk menipu orang lain. Ibn Qutaibah berkata: penglarisan yaitu tindakan penipuan dan kecurangan.

a. Hadits dari Ibn `Umar -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melarang tindakan penglarisan.

b. Al-Imam Al-Bukhariy berkata: Ibn Abi Aufa berkata: Praktisi penglarisan adalah pemakan riba serta pengkhianat, dan ini adalah persaingan yang salah serta tidak halal.

c. Al-Hafizh Ibn Hajar berkata: Ibn Abi Aufa menamakan orang yang memberi tahu bahwa dia membeli dengan harga lebih mahal dari harga yang dibeli orang adalah praktisi penglarisan, karena dia bekerja sama dalam menipu orang lain untuk penjual yang menambahkan harga barang, sedangkan dia tidak mau membelinya. Maka mereka berdua sama-sama dihukum berdosa karena tindakan tersebut, dan pemakan riba menurut artian ini.

d. Dalam madzhab mayoritas ahli fiqih mengatakan bahwa jual beli dengan praktek penglarisan hukumnya adalah haram. Karena adanya larangan terhadap praktek tersebut, dan juga karena adanya unsur penipuan terhadap seorang muslim yang hukumnya haram.

3. Jual Beli Tengkulak Barang Dagangan


a. Hadits dari Abu Hurairah -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melarang jual beli penghadangan barang dagangan.

b. Hadits dari `Abdullah -Allah meridhainya- berkata: kami menghadang para pedagang berjalan dan kami beli barang makanan dari mereka, kemudian Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melarang kami untuk menjualnya kecuali telah sampai ke pasar barang makanan.

c. Hadits dari Ibn `Umar -Allah meridhainya- berkata: Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melarang barang dagangan dihadang kecuali telah sampai ke pasar.

d. Hadits dari `Abdullah -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melarang barang jual beli dihadang untuk diperjual belikan.

Penghadangan (at-talaqqiy) yaitu: pergi dari suatu tempat yang ke sana masuknya jual beli makanan atau sejenisnya.

Barang dagangan (al-jalab) yaitu: dengan arti pembawa barang dagangan, atau dengan arti bawaan barang dagangan, dengan maksud barang yang dibawa dari tempat ke tempat.

Pengendara-pengendara (ar-rukbaan) yaitu: bentuk plural dari kata pengendara (raakib). Diungkapkan dalam bentuk plural dengan melihat kondisi biasanya, yang dimaksud yaitu pendatang, walaupun sendiri atau berjalan kaki.

Arti hadits di atas yaitu berbentuk yang dilakukan oleh sebagian orang atau pedagang dengan menghadang barang dagangan yang datang kepada mereka sebelum barang tersebut sampai ke pasar, dan sebelum pembawa barang dagangan sampai ke tempat hingga mereka mengetahui harga pasar, sementara mereka memberi tahukan bahwa harga turun dan pasar sepi serta keinginan barang sedikit. Mereka menipu pembawa barang dagangan pada yang ada di tangan mereka, dan membelinya dari mereka dengan harga rendah. Maka Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melarang orang-orang atas praktek tersebut karena terdapat kerugian.

Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa jual beli tengkulak (penghadangan barang dagangan) diharamkan karena adanya larangan atas jual beli tersebut, dan karena terdapat penipuan dan kecurangan terhadap pemilik barang dagangan serta merugikan masyarakat umum.

Al-Imam Al-Bukhariy berkata: Bab Larangan Jual Beli Tengkulak, dan praktek jual beli tersebut tertolak. Karena praktisinya pelawan agama serta berdosa jika dia mengetahui hukumnya, dan ini termasuk penipuan dalam jual beli sedangkan praktek penipuan hukumnya tidak boleh.

4. Jual Beli dengan Makelar


Artinya: Seorang makelar pergi kepada pembawa barang dagangan, sama halnya dia berasal dari kota atau dari desa. Penjual adalah orang asing di tempat tersebut, dan dia mau menjual barang dagangannya dengan harga saat itu kontan. Kemudian makelar berkata kepada penjual barang: letakkan barangmu semuanya di tempatku agar aku jual eceran dengan harga yang lebih tinggi dari harga itu.

Hadits dari Ibn `Abbas -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Janganlah kalian hadang para pembawa barang dagangan, dan janganlah orang kota menjual untuk orang kampung (jual beli dengan makelar). Thawus berkata: aku bertanya kepada Ibn `Abbas: apa yang dimaksud dengan "janganlah orang kota menjual untuk orang kampung"?, kemudian beliau menjawab: (tidak boleh ada makelar).

Makelar (as-simsaar) yaitu: orang yang menangani masalah jual beli untuk orang lain.

Hadits dari Jabir -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: Janganlah orang kota menjual untuk orang desa, biarkanlah orang-orang dalam jual beli mereka, Allah akan memberikan rizki sebagian mereka dari sebagian yang lainnya.

Jual beli bentuk ini adalah termasuk jual beli yang diharamkan karena adanya larangan atas jual beli tersebut. Dan bentuk larangan menuntut adanya unsur kerusakan, dan merugikan kaum muslimin. Karena orang desa datang ke suatu tempat, dan menjual barang dagangan dengan suatu harga agar kembali kepadanya keuntungan dengan usaha halal, dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. Akan tetapi jika seorang makelar menangani penentuan harga untuk dia, sedangkan makelar tersebut mengetahui kebutuhan orang dan keperluan mereka, maka makelar tadi akan menambahkan harga dengan keuntungan yang terkadang bisa mencapai berlipat ganda. Hal ini bertentangan dengan toleransi Islam serta kemudahan agama yang bijaksana. Oleh karena itu di dalam hadits terdapat: Biarkanlah orang-orang dalam jual beli mereka, Allah akan memberikan rizki sebagian mereka dari sebagian lainnya.

Ibnul Mundzir berkata: Ahli fiqih berbeda pendapat atas larangan ini, maka mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa pengharaman jual beli tersebut dengan syarat pelaku mengetahui larangan, barang yang dijual adalah barang yang diperlukan oleh orang-orang, serta penawaran orang kota kepada orang desa untuk menjualkan barang dagangannya. Maka jika orang desa yang menawarkan barang dagangannya dijualkan oleh orang kota hukumnya tidak dilarang. Al-Hafizh Ibn Hajar mengomentari kalimat terakhir dengan berkata: Adapun adanya syarat penawaran penjualan oleh orang desa maka hal ini tidak bisa jadi alasan karena tidak ada segi dalil dari lafazh hadits, serta tidak ada makna ke arah itu. Karena kerugian yang disebabkan dari hukum larangan jual beli tersebut tidak membedakan kondisi antara adanya permintaan orang desa atau tidak.

5. Jual Beli Kelebihan Air


a. Hadits dari Jabir bin `Abdullah -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melarang jual beli kelebihan air.

b. Hadits dari Abu Hurairah -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: Janganlah orang dihalangi dari menggunakan kelebihan air, yang dapat terhalangi tumbuhnya rumput.

Al-Imam An-Nawawiy -Allah merahmatinya- berkata:

Adapun makna larangan jual beli kelebihan air hingga dapat terhalangi tumbuhnya rumput yaitu: seseorang memiliki sumur yang penuh dengan air di tanah luas, dan air sumur itu berlebih dari kebutuhannya. Sedangkan ada rerumputan yang tidak memiliki sumber air kecuali dari sumur tersebut. Dan tidak mungkin bagi pemilik hewan ternak untuk mengembala di rerumputan kecuali jika mendapatkan pengairan untuk tumbuhnya rerumputan dari sumur itu. Sehingga diharamkan melarang pengairan rerumputan dari air sumur demi pengembalaan hewan ternak. Wajib hukumnya memberikan pengairan ini tanpa imbalan. Karena jika dia menghalangi pengairan tersebut maka orang akan tidak mau untuk mengembala di rerumputan itu, cemas dengan hewan mereka akan kehausan. Maka dengan penghalangan penggunaan air akan menjadi penghalang terhadap rerumputan.

Oleh karena itu dalam menghalangi penggunaan kelebihan air bagi kebutuhan orang terdapat kerugian terhadap tanaman, perkembang-biakan serta hewan ternak. Sedangkan kita telah dilarang terhadap kerugian. Maka dari itu Allah mengancam bagi orang yang melakukan tindakan tersebut akan dihalangi juga dari karunia Allah di hari kiamat serta Allah tidak berbicara dengannya.

c. Hadits dari Abu Hurairah -Allah meridhainya- berkata: dari Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Ada tiga kelompok manusia yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka di hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka, Allah tidak akan mensucikan mereka dan adzab yang pedih bagi mereka: orang yang bersumpah untuk suatu barang dagangan bahwa dia telah membeli lebih mahal dari harga dia jual dan dia adalah pendusta. Orang yang bersumpah dengan sumpah palsu setelah `ashr untuk memutuskan perkara harga seorang muslim lainnya. Dan orang yang menghalangi kelebihan airnya, maka Allah akan berkata: hari ini aku halangi kamu dari karuniaku sebagaimana engkau telah menghalangi manusia dari kelebihan yang bukan jerih payah tanganmu. Dan dalam riwayat lainnya disebutkan: orang yang memiliki kelebihan air di jalan kemudian dia menghalangi pejalan dari kelebihan air tersebut.

6. Jual Beli Seorang Penimbun Barang (Al-Muhtakir)


Hadits dari Ma`mar bin `Abdillah -Allah meridhainya- berkata: dari Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Tidak ada seseorang yang menimbun bahan makanan kecuali dia adalah seorang bersalah.

An-nawawi mengatakan, Ahli Bahasa berkata: arti penimbun (al-muhtakir) yaitu: seorang bersalah: seorang pelawan serta pendosa.

Hadits ini jelas dalam pengharaman tindakan penimbunan barang dagangan.

Shahabat kami berpendapat: Tindakan penimbunan yang diharamkan yaitu: penimbunan untuk bahan makanan pokok khususnya. Yaitu dengan bentuk: seseorang membeli bahan makanan pada waktu mahal untuk berniaga, sedangkan dia tidak menjual barang langsung pada waktu itu. Akan tetapi dia menyimpannya supaya harga naik. Adapun jika terdapat dari tempatnya, atau dia beli pada waktu murah kemudian disimpan atau dibeli pada waktu mahal untuk kebutuhan makan, atau dibeli untuk dijualnya pada saat itu juga, maka bentuk-bentuk ini bukan dalam kategori penimbunan dan tidak ada pengharaman di dalamnya. Adapun pada selain bahan makanan pokok maka tidak diharamkan penimbunan dalam kondisi apa pun.

`Ulama berpendapat: Hikmah pada pengharaman penimbunan barang adalah untuk mencegah kerugian dari manusia pada umumnya, sebagaimana `ulama berkonsesus bahwa jika seseorang memiliki bahan makanan dan orang lain sangat membutuhkan, dan tidak didapati selain dia maka dia dipaksa untuk menjual bahan makanan tersebut untuk mencegah kerugian dari orang lain.

Adapun yang disebutkan oleh Sa`id bin Al-Musayyib dan Ma`mar periwayat hadits tersebut, bahwa mereka berdua melakukan praktek penimbunan, maka hal ini dimaksud dengan penimbunan barang yang tidak merugikan orang, seperti minyak dan lauk pauk. Adapun penimbunan barang yang merugikan orang maka tidak termasuk yang dilakukan mereka berdua. Sehingga jangan sampai diduga bahwa seorang shahabat meriwayatkan suatu hadits kemudian dia menentangnya, dan begitu juga dengan Sa`id bin Al-Musayyib jangan sampai diduga dengan kelebihan dan ilmunya, meriwayatkan hadits kemudian menentangnya. Kecuali makna hadits diartikan terhadap penimbunan barang yang tidak dipandang bahan pokok makanan seperti minyak.

9. Jual Beli Yang Terdapat Unsur Kecurangan, Jebakan Dan Penipuan


Hadits dari Abu Hurairah -Allah meridhainya- berkata: Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- melewati suatu penjualan gundukkan bahan makanan, kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam gundukkan tersebut maka jari-jarinya sampai basah, kemudian beliau berseru: Apa ini wahai pemilik makanan?. penjual berkata: gundukkan makanan itu kena hujan wahai Rasulallah, kemudian beliau berkata: Apakah tidak seharusnya engkau jadikan bagian yang basah itu di atas gundukkan bahan makanan tersebut agar orang bisa melihatnya? Orang yang melakukan kecurangan maka bukanlah dari golonganku.

Hadits dari Abu Hurairah -Allah meridhainya- berkata: bahwa Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam melewati seorang penjual bahan makanan, kemudian beliau bertanya: bagaimana engkau melakukan penjualan?. Kemudian dia memberi tahukan penjualannya. Sedangkan Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- diwahyukan oleh Allah untuk memasukkan tangannya ke dalam gundukkan bahan makanan yang dijual, maka beliau memasukkannya dan tangannya menjadi basah. Kemudian beliau berkata: Bukanlah dari golongan kami orang yang mencurangi kami.

Hadits dari Qais bin Sa`d, dia berkata: Jika bukanlah karena aku telah mendengar Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Tindakan penjebakan dan penipuan tempatnya di dalam neraka. sungguhlah aku menjadi orang yang paling bisa melakukan tindakan penjebakan.

Hadits dari `Abdullah bin Mas`ud, dia berkata: Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: Siapa yang mencurangi kami maka dia bukan dari golongan kami. Penjebakan dan penipuan tempatnya adalah di neraka.

Ibn Al-`Arabiy berkata: Tindakan kecurangan hukumnya haram sesuai dengan konsesus ummat, karena hal itu adalah lawan dari tindakan ketulusan. Diambil dari akar kata: kekeruhan (al-ghasyasy) yaitu: air yang keruh. Pada saat di mana barang dagangan yang bagus dicampur dengan yang jelek dan ditutupi, yang seandainya diketahui jelas maka pembeli tidak akan melangsungkan pembelian[4].

Al-Baghawiy berkata: Tindakan penipuan dalam jual beli hukumnya haram, seperti tindakan menutupi kejelekan barang.

Ibn Hajar Al-Haitsamiy berkata: Setiap orang yang mengetahui ada suatu kejelekan pada barang dagangannya maka dia benar-benar wajib untuk menjelaskannya kepada pembeli. Begitu pula jika orang selain penjual yang mengetahui kejelekan pada barang, seperti tetangga atau teman yang melihat ada seseorang ingin membeli sedangkan dia tidak mengetahui kejelekan pada barang, maka wajib baginya untuk menjelaskan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam-: Tidak halal hukumnya bagi seseorang yang menjual suatu barang kecuali setelah dia jelaskan hal-hal yang terdapat pada barang tersebut. Dan tidak halal hukumnya bagi seseorang yang mengetahui hal tersebut kecuali dia jelaskan.

Kebanyakan orang tidak mau tau hal tersebut atau tidak mengetahuinya.

Ketahuilah -Allah merahmatimu- sesungguhnya tindakan pemalsuan, kecurangan dan penipuan adalah tindakan yang dilarang dalam agama sesuai dengan kesepakatan `ulama.

Terkadang tindakan pemalsuan, kecurangan dan penipuan ini juga berbentuk tindakan perbuatan, perkataan dan menyembunyikan hakikat sebenarnya.

Dalam bentuk perbuatan seperti: Menimbulkan suatu tindakan pada barang dagangan agar terlihat jelas bentuk yang bukan sebenarnya pada kenyataan. Artinya yaitu tindakan pemalsuan sifat barang dagangan atau perubahan dengan tujuan pembodohan. Seperti bentuk tindakan menyusun barang dagangan yang dijual dengan meletakkan bagian yang bagus di atas. Juga dengan mengecat perabot lama dan mobil lama agar terlihat jelas bahwa barang tersebut baru. Atau dengan cara mempermainkan barometer kilo mobil atau terlihat bahwa mobil tersebut dipakai sedikit.

Diantara contoh yang terkenal dalam tindakan ini yaitu: kambing yang dibengkakkan kantong susunya. Yaitu kambing yang air susunya ditahan di dalam kantong susunya dengan cara mengikat susunya, sekali dalam dua atau tiga hari, dengan tujuan supaya air susunya berkumpul dan penuh. Agar pembeli terbodohi dengan besar kantong susu dan deras air susunya.

Adapun dengan bentuk perkataan yaitu: seperti kebohongan yang berasal dari salah satu pelaku transaksi atau pihak pelaku perwakilan untuk dirinya, hingga membawa pelaku lain untuk bertransaksi sekalipun dia telah dibohongi. Seperti bentuk: penjual atau pemilik sewa berkata kepada pembeli atau penyewa: barang ini harganya lebih, tidak ada yang seperti ini di pasaran, orang lain membayar harga sekian namun aku tidak menerima, dan bentuk lainnya yang termasuk dalam bentuk-bentuk rayuan bohong.

Adapun tindakan menutupi hakikat barang yang sebenarnya, seperti bentuk: seorang penjual menutupi suatu kejelekan pada barang, seperti keretakan dinding rumah dengan mengecatnya dan mendempul, atau adanya kerusakan pada mesin mobil, atau adanya penyakit pada hewan yang dijual. Juga termasuk tindakan pembeli dalam menutupi kekurangan pada uang pembayarannya, seperti bentuk uang kertas yang tidak layak transaksi (uang palsu) atau nomor serinya yang telah hilang.

Semua bentuk tersebut hukumnya diharamkan secara agama menurut kesepakatan ahli fiqih.

10. Jual Beli Paksaan (At-Talji'ah)


Paksaan (At-Talji'ah) secara etimologi yaitu: tindakan pemaksaan dan keterpaksaan. Diambil dari akar kata 'memaksa' (iljaa'), seperti contoh: seseorang telah memaksamu hingga engkau melakukan tindakan yang pada dasarnya bertentangan dengan luarnya, seseorang membuatmu melakukan tindakan yang engkau benci.

Sedangkan menurut terminologi, maka artinya kembali kepada arti asal kata memaksa (ilja'), yaitu pemaksaan total atau keras, seperti tindakan ancaman seseorang kepada orang lain dengan membunuh atau memotong bagian tubuh, atau memukul keras jika dia tidak melakukan hal yang diinginkannya.

Atau dengan artian: orang yang terpaksa melangsungkan jual beli untuk melarikan hartanya dari cara yang zhalim. Atau dengan artian: penulisan transaksi dan penampakan jual beli tanpa adanya niat atau proses lisan.

Hukum jual beli tersebut rusak menurut madzhab hanafiy, dan batal menurut madzhab hanbaliy.

Dalam bentuk jual beli ini terdapat unsur kerugian bagi penjual dari segi dipaksa dalam transaksi jual beli sedangkan dia tidak ingin, dan Allah telah melarang kita terhadap hal tersebut.

Allah ta`ala berkata:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ)

Wahai orang-orang yang beriman..., janganlah kalian mengambil harta sesama kalian dengan cara batil, kecuali dengan perniagaan atas unsur kepuasan antara sesama kalian.

Hadits dari Abu Sa`id Al-Khudriy -Allah meridhainya- berkata: Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata: (transaksi jual beli berlangsung haruslah atas unsur kepuasan).

Asy-Syaikh Ibn Al-`Utsaimin -Allah merahmatinya- berkata:

Diantara penjual dan pembeli disyaratkan harus adanya unsur kepuasan, karena jika kita tidak mensyaratkan unsur kepuasan maka orang akan saling mengambil harta sesama mereka. Karena setiap orang yang ingin suatu barang pada orang lain akan mendatanginya dan berkata: Aku beli barang ini darimu seharga sekian. Hal ini akan menyebabkan kekacauan, pertentangan, permusuhan dan perseteruan. Maka hukum transaksi jual beli dari pihak yang terpaksa tidak sah seharusnya.

Orang yang terpaksa yaitu orang yang dipaksa untuk transaksi jual beli, dengan artian terpedaya dalam jual beli, maka hukumnya tidak sah jual beli dari orang yang terpaksa kecuali karena suatu hak benar. Seandainya seorang pemimpin zhalim memaksa orang lain untuk menjual suatu barang kepada si A, dan dia menjualnya, maka hukum jual beli ini tidak sah. Karena berasal dari tidak adanya unsur kepuasan. Seperti itu juga dalam contoh seperti jika engkau mengetahui bahwa seorang penjual menjual barang dagangannya karena malu dan segan, maka engkau tidak boleh membelinya. Selagi engkau mengetahui bahwa jika bukan karena mau dan segan dia tidak akan menjualnya kepadamu. Oleh karena itu `ulama -Allah merahmati mereka- berkata: hukum menerima hadiah diharamkan jika diketahui bahwa orang yang memberikan hadiah kepada orang lain karena rasa malu atau segan, karena walaupun dia tidak menjelaskan bahwa dia tidak puas, namun petunjuk kondisi mengatakan bahwa dia tidak puas.

Adapun jika seseorang dipaksa dalam jual beli karena hak benar, maka sesungguhnya ini adalah menetapkan suatu hak dan bukan termasuk bentuk kezhaliman dan permusuhan.

Contoh dalam hal tersebut: seseorang menggadaikan rumahnya kepada orang lain karena hutangnya. Dan tatkala jatuh tempo, maka penghutang menuntut pembayaran hutang, akan tetapi orang yang penggadai yang berhutang enggan untuk melunasi. Maka pada saat ini penggadai dipaksa untuk menjual rumahnya untuk melunasi hak penghutang atas hutangnya, dan dia dipaksa atas jual beli tersebut.
Lebih baru Lebih lama