Fikroh.com - Upaya memperburuk citra islam (tasywih) terus dikampanyekan oleh islamphobia dari kalangan sekulerism dan liberalism. Salah satu wilayah yang dianggap sebagai simbol islam di tanah air adalah provinsi Aceh. Maka berbagai upaya untuk memperburuk citra aceh sebagai representasi Islam terus digenvarkan.

Tidak mau tinggal diam seorang muallaf asal Bali, Ida Ayu Komang merontokkan semua upaya kaum islampobia dengan memberikan kesaksianya soal syariat Islam yang diterapkan di Aceh. Dalam unggahan di akun Facebooknya, Jumat (9/7), Ida "menguliti" semua stigma buruk Aceh dengan argumen dan kesaksiannya secara cerdas dan faktual.

"Buat buzzeRP yang anti syari’at dan suka menjelekkan Aceh. Sini, aku bisikin." Demikian tantang Ida memulai tulisannya.

Selanjutnya ida mulai bercerita pengalaman awal tinggal di Aceh.

"Aku pindah ke provinsi ini tahun 2011 akhir. November kalau nggak salah. Pindah karena suami asli orang sini." tuturnya.

Ida mengaku kaget saat pertama kali menginjakkan kaki di Aceh yang ternyata kotanya rapi dan indah, semua jalan di aspal.

"Aku kaget waktu pertama sampai. Jalanan mulus. Nggak seperti provinsi tempat asalku. Jalan provinsi pun penuh lobang hingga ada yang ditanami pisang oleh masyarakat."

Kata suami waktu itu, “Di sini pantang jalan berlobang, Dek. Langsung diperbaiki.”

Lebih terkejut lagi, jalan setapak ke sawah dan ladang pun beraspal, minimal disemen.

Ida melanjutkan, sikap orang aceh sangat ramah dan sopan.

"Keesokan hari, saat melapor ke kantor Bupati, aku terkejut. Semua pegawai dan Bupatinya ramah. Berbeda jauh dari tempat asalku." Jelasnya.

"Malas rasanya berurusan ke kantor kalau di tempat asalku. Urus apa-apa pakai duit. Pegawainya songong tingkat awan. Pejabatnya, songong tingkat langit. Wajah nggak ramah. Setingkat lurah pun berlagak menteri." Jelasnya.

Di sini, justru aku yang ditanya, “Ada perlu apa, Kak?” Mereka pun yang antar kita ke dalam kantor menjumpai kepala dinas bahkan bupati.

Saat malam aku keluar bareng suami. Aku kaget lagi. Banyak penjual, terutama penjual sayur dan buah tidak menyimpan jualannya.

Aku paling suka saat hari Jum’at. Terharu melihat toko-toko ditutup (ini nggak ditutup pintu, loh. Hanya diberi tanda dua kursi dan sapu, pertanda toko tak melayani pembeli karena sholat Jum’at. Nggak akan ada pencuri di sini.) Jalanan sepi karena para lelaki ke masjid untuk sholat Jum’at. Pemandangan yang menyejukkan buatku.

Saat awal datang aku sempat tanya ke suami perihal toko yang ditinggal begitu saja. “Nggak takut dicuri, Bang?”

“Di sini nggak ada pencuri, Dek.” Itu jawaban suami saat itu.

Sayang, sekarang mulai datang maling dari luar untuk mencuri ternak.

Yang luar biasa, pelayanan RS. Gratis untuk seluruh masyarakat ber-KTP Aceh, bernama JKA, Jaminan Kesehatan Aceh. Cuci darah pasang ring, operasi besar, dan treatment lainnya gratis. Saat ini, untuk test Covid pun gratis.

Satu lagi, kalau kalian ke Aceh, nggak akan ketemu bus jelek. Orang Aceh itu kaya-kaya. Nggak mau naik bus jelek.

Orang Aceh itu ramah-ramah dan baik. Aman tinggal di sini. Nggak takut kesasar juga. Orang akan dengan senang hati membantu.

Pernah, aku pulang kampung naik bus. Muntah-muntah saat lewat Bireun. Saat itu pukul 3 dini hari. Aku turun dan naik becak. Lumayan jauh ke hotel. Butuh waktu satu jam.

Sempat kepikiran macam-macam. Abang becak sepertinya membaca ketakutanku. “Nggak perlu takut, Kak. Kuantar Kakak selamat sampe hotel.”

Aku pernah ketinggalan dompet di toko buah. Lupa di mana. Setelah ditelusuri ternyata tertinggal di toko buah. Saat itu aku sudah di Jakarta. Suami yang jemput setelah 2 hari. Masih utuh tanpa hilang sepeser pun.

Di tempatku ini susah mencari orang miskin, apalagi fakir. Sesusahnya orang di sini pakai emas dan masih punya rumah.

Seringkali, ketika aku ingin bersedekah harus titip Ummi di kampung halamanku.

Gaji buruh di sini lumayan tinggi. Itu sebabnya, banyak pendatang yang nggak mau lagi pulang.

Oh, iya. PNS di Aceh setiap gajian dipotong 2,5% untuk zakat. Masuk ke Baitul Maal. Buat mahasiswa yang nggak punya uang bisa meminta bantuan uang ke situ.

Tahukah teman semua kalau jema’ah haji Aceh saat kembali ke tanah air dapat uang saku dari pemerintah Arab Saudi sebesar 1.200 Riyal atau kita-kira 5 juta?

Dana ini diambil dari tanah wakaf warga Aceh, Habib Bugak al Asyi di Arab Saudi. Dikelola pemerintah Arab Saudi untuk kemudian dikembalikan pada warga Aceh yang menunaikan ibadah haji.

Wakaf itu pernah diminta pemerintah Indonesia untuk dikelola, tetapi ditolak Arab Saudi. Mereka takut disalahgunakan.

Hasil wakaf yang diterima oleh jamaah Aceh diperkirakan bernilai 200 juta riyal atau sekitar Rp5,2 triliun. Aset yang diperoleh dari wakaf tersebut berupa Menara Ajyad setinggi 28 lantai dan Hotel Ajyat 25 tingkat yang berada di 600 serta 500 meter dari Masjidil Haram.

Saat Idul Adha, daging kurban menumpuk karena banyak warga yang berkurban. Seringkali, hewan kurban tak dipotong di satu hari. Bingung mau bagi daging ke mana. Ujung-ujungnya, kulkas penuh daging.

Belanja di sini, jangan harap kurang timbangan. Yang ada, timbangan dilebihkan. Karena syari’at Islam mengharamkan mengurangi timbangan.

Jadi, ketika syari’at Islam ditegakkan, masyarakat hidup aman dan damai. Minim pencurian dan tindakan jahat serta maksiat lain.

Sebaik apa pun sebuah tempat, pasti ada juga kekurangannya. Tak ada yang sempurna di muka bumi ini. Sebaik apa pun aturan syari’at ditegakkan, ada juga yang melanggar.

Tetapi, dibandingkan jeleknya, bagusnya lebih banyak.

Nah, yang aneh, bagus yang 9 tak dipublikasi, jelek yang 1 di-blow up seolah-olah itu yang yang selalu terjadi di Aceh.

Menurutku, yang nggak betah tinggal di Aceh pasti pecinta maksiat. Maling, pezina, pemabuk, anti hijab, dan benci syari’at Islam.

Datanglah ke Aceh. Coba tanya non Muslim yang tinggal di sini. Mereka saja pun betah. Aku sering ngobrol dengan mereka saat pekanan, hari Minggu, saat aku belanja.

Aku tanya apa mereka betah dan bagaimana perlakuan saudara Muslim ke mereka.

Mereka menjawab bahwa nyaman tinggal di Aceh dan nggak mau pulang kampung. Bahkan ada yang mengatakan ada anaknya yang muallaf.

“Kenapa dikasih masuk Islam, Namboru?”

“Dia suka. Yang penting, dia jadi baek. Kutengok, tambah baek dia abis masuk Islam. Udah nggak minum tuak lagi.” Itu jawaban salah satu wanita setengah baya yang pernah kutanya waktu aku membeli baju bekas import yang dia jual.

Oleh karena itu, jangan percaya pemberitaan tak benar apalagi yang disebarkan buzzeRp.

Aku selalu berdo’a agar Aceh tetap menegakkan syari’at Islam.

I love Aceh.
Lebih baru Lebih lama