Fikroh.com - Melanjutkan pembahasan tentang hal-hal yang hukumnya boleh dilakukan saat shalat bag. 2, bagi yang belum membaca bagian pertama silahkan baca disini : Hal-hal Yang Boleh Dilakukan Saat Shalat Bag. 1 :

1. Menggendong dan Menyunggi Anak Kecil Ketika Shalat


Ada riwayat dari Abu Qatadah, katanya:

“Bahwa ketika Nabi sedang shalat, Umamah putri Zainab binti Muhammad ada di pundaknya. Apabila Nabi Rukuk, anak itu diletakkan dan apabila beliau berdiri, anak itu diambilnya lagi dan ditaruh di atas pundaknya. Kata Amir: Saya tidak menanyakan, shalat apakah yang dilakukannya. Sementara Ibnu Juraij berkata: Saya diberi tahu Zaid bin Abu ‘Itab dari 'Umar bin Sulaim, bahwa itu adalah shalat Subuh. Abu 'Abdurrahman (yaitu 'Abdullah bin al lmam Ahmad) menyatakan: bahwa hadits Ibnu uraij yang menegaskan waktu Nabi menggendong itu pada shalat Subuh, sanadnya baik”. (HR. Ahmad, an’Nasa’i dan ahli hadits lainnya).

Al-Fakihani berkata: Fenomena Rasulullah yang mau menggendong Umamah pada waktu shalat itu seakan-akan dimaksudkan sebagai peringatan kepada bangsa Arab yang biasanya tidak menyukai anak perempuan. Maka dengan perbuatan tersebut, Nabi memberi pelajaran secara halus kepada mereka supaya kebiasaan tersebut ditinggalkan, sehingga beliau mencontohkan bagaimana mencintai anak perempuan meskipun dalam shalat. Dan penjelasan dengan menggunakan perbuatan itu seringkali lebih kuat pengaruhnya dari pada dengan perkataan. Ada juga hadits dari 'Abdullah bin Syidad, dari ayahnya, mengatakan:

“Pada suatu ketika, Rasulullah pernah keluar untuk shalat siang-bisa Dhuhur atau Ashar-sambil membawa Hasan atau Husein. Kemudian Nabi maju ke depan dan meletakkannya (cucunya) kemudian bertakbir untuk memulai shalat. Kemudian beliau sujud dengan amat lama. Ketika kuangkat kepalaku, ternyata anak tersebut sudah berada di atas punggung Nabi padahal beliau masih sujud. lalu aku kembali bersujud. Setelah selesai shalat, para jamaah menanyakan: Ya Rasulallah, tadi anda lama sekali sujud hingga kami mengira telah terjadi sesuatu atau ada wahyu yang diturunkan kepada anda? Jawab beliau: Semua itu tidak terjadi, hanya saja cucuku ini menaiki punggungku dan aku tidak mau memutuskannya dengan segera sehingga ia merasa puas”. (HR Ahmad, an-Nasa'i dan al-Hakim).

Imam Nawawi berkata: Hadits ini dijadikan argumen madzhab Syafi'i dan lainnya yang sepakat dengannya bahwa membawa anak laki-laki maupun perempuan ataupun membawa hewan yang suci, baik dalam shalat fardlu atau sunnah, ketika menjadi imam atau makmum, itu semua dibolehkan. Akan tetapi ulama Maliki membolehkannya hanya pada shalat sunnah saja bukan fardlu. Pendapat tersebut tidak bisa dibenarkan, karena bukti telah menegaskan bahwa Nabi telah memimpin shalat dengan menjadi imam bagi orang banyak. Peristiwa itu jelas pada shalat fardlu, apalagi dinyatakan bahwa itu dilakukan pada shalat Subuh.

Sebagian ulama Maliki menganggap bahwa hadits ini mansukh-dihapus hukumnya-dan sebagian lagi berpendapat bahwa hal itu dibolehkan hanya khusus bagi Nabi, dan sebagian lainnya menyatakan bahwa hal itu dilakukan Nabi karena terpaksa atau darurat. Semua alasan itu, menurut saya, tidak dapat diterima dan harus ditolak, sebab tidak ada keterangan yang menjelaskan adanya nash khusus bagi Nabi atau karena darurat. Namun hadits itu tegas membolehkannya dan ini tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syara'. Bukankah semua anak Adam itu suci, dan apa yang ada di dalam perutnya itu dimaafkan karena berada dalam perut besar. Begitu juga pakaian anak-anak senantiasa dianggap suci. Dalam hal ini, dalil-dalil syariat telah menjelaskannya. Sedangkan gerakan-gerakan di dalam shalat itu tidak membatalkan shalat, karena hanya sedikit-sedikit dan terputus-putus. Apa yang dilakukan Nabi tersebut merupakan penjelas dan penegas terhadap prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas. ;

Argumen di atas juga dapat dijadikan dasar sanggahan terhadap pendapat imam Abu Salaiman al-Khattabi yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan Nabi itu tidak disengaja dan Nabi tidak mengangkatnya melainkan anak itu bergantung sendiri kepadanya. Akan tetapi bagaimana dengan peristiwa dalam hadits yang menyatakan Nabi, ketika akan berdiri yang kedua kalinya, beliau mengambil anak itu. Bukankah itu sengaja dilakukan oleh Nabi? Apalagi dalam kitab Sahih Muslim dinyatakan: “Ketika Rasulullah beridiri beliau membawanya”. Juga dinyatakan: “Ketika Rasulullah bangkit dari sujud, beliau mengembalikannya”. Ada juga riwayat selain Muslim yang menyatakan: Rasulullah keluar kepada kami dengan membawa Umamah lalu beliau shalat …'. Kemudian al-Khattabi menerangkan bahwa menyunggi anak itu dapat mengganggu kekhusukan sebagaimana menggunakan sajadah yang bergambar. jawaban saya adalah, memang benar, selain menggunakan sajadah bergambar itu mengganggu kekhusukan juga tidak ada manfaatnya sama sekali. Berbeda dengan membawa anak kecil, meskipun agak mengganggu namun memberikan manfaat dan dibolehkan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Dan gangguan karena anak kecil berbeda dengan gangguang sajadah bergambar.

Yang benar sesuai dengan beberapa hadits adalah bahwa membawa anak kecil itu dibolehkan dan membawa manfaat karena syariat telah membolehkannya dan akan tetap berlaku bagi ummat Islam hingga hari kemudian. Wallahu A'lam bi ash-Shawab.

2. Memberi Isyarat Salam kepada Orang yang Memberi Salam Kepadanya atau Mengajaknya Berbicara.


Seseorang yang sedang shalat dibolehkan menjawab dengan isyarat terhadap orang yang memberinya salam atau mengajaknya berbicara. Dengan demikian berarti dibolehkan juga seseorang memberi salam dan mengajak berbicara kepada orang yang sedang shalat. Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin 'Abdullah mengatakan:

“Aku diperintah Rasulullah agar datang kepadanya, karena waktu tu beliau mau pergi menemui Bani al-Musthaliq. Lalu aku datang dan kebetulan beliau Sedang shalat di atas kudanya. Kemudian aku bertanya kepadanya, lalu beliau pun memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Kemudian aku berbicara lagi, dan beliau memberi isyarat lagi dengan tangannya. Saya sendiri mendengar bacaan shalat beliau sambil beliau menganggukkan kepalanya. Setelah selasai shalat, beliau bertanya: Bagaimana dengan tugas yang telah aku berikan kepadamu? Sebenarnya tidak ada halangan apapun untuk menjawab pertanyaanmu, hanya saja aku sedang shalat” (HR. Ahmad dan Muslim).

Ada hadits lagi yang diterima dari 'Abdullah bin lmar yang diriwayatkan dari Shuhaib, ia berkata: “Saya pernah berjalan melewati Rasulullah pada waktu ia sedang shalat.. Saya memberi salam kepadanya, dan beliau menjawabnya dengan isyarat”. Perawi berkata bahwa dia tidak mengerti selain isyarat beliau dengan jarinya. (HR. Ahmad dan at-Turmudzi dan ia menyatakan hadits tersebut sahih). Ada juga riwayat dari Ibnu 'Umar, katanya: bertanya kepada Bilal? Bagaimanakah cara Nabi membalas salam kepada orang yang memberi salam ketika beliau sedang shalat? Jawab Bilal; Nabi memberi isyarat dengan tangannya” (HR Ahmad dan Ashabussunan dan hadits ini dihukumi sahih oleh athurmudzi)

Dan hadits dari Anas bahwasanya Nabi pernah memberi isyarat ketika beliau sedang shalat. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah, dan dia menyatakan hadits ini sahih).

Dengan demikian, memberi isyarat dengan jari, dengan tangan dan menganggukkan kepala ketika sedang shalat untuk menjawab salam atau pertanyaan orang yang melintasinya diperbolehkan, berdasarkan penjelasan yang bersumber dari Nabi SAW.

3. Bertasbih dan Bertepuk Tangan


Ketika shalat, bagi laki-laki dibolehkan bertasbih dan bertepuk tangan bagi perempuan, apabila ada suatu kebutuhan, misalnya untuk mengingatkan imam yang melakukan kesalahan, memberi izin kepada orang yang mau masuk atau memberi petunjuk kepada orang yang buta dan sebagainya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi dari Nabi SAW sabdanya:

“Barangsiapa yang terganggu oleh susuatu dalam shalatnya, hendaklah ia mengucapkan subhanallah. Sesungguhnya bertepuk tangan itu untuk para wanita dan ber-tasbih itu untuk laki-laki”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa'i).

4. Membetulkan Bacaan Imam


Apabila imam terlupa bacaan suatu ayat atau salah, maka hendaklah makmum mengingatkannya atau membetulkannya, baik pada bacaan wajib (al-Fatihah) atau bacaan sunnat. Berdasarkan hadits dari Ibnu 'Umar.

“Bahwasanya ketika Nabi SAW sedang shalat, lalu beliau membaca suatu ayat, tiba-tiba beliau lupa dan ragu membacanya. Setelah selesai shalat beliau bertanya kepada bapakku-yakni 'Umar bin al-Khattab: Apakah anda ikut shalat bersamaku?

Jawabnya: Ya, saya ikut. Beliau pun lalu mengatakan: Mengapa anda tidak mengingatkanku”. (HR. Abu Dawud dan lainnya, sedangkankan perawi perawinya dapat dipercaya).

5. Memuji Allah Ketika Bersin Mendapat Suatu Nikmat


Hadits dari Rifa'ah bin Rafi’, dia berkata:

“Saya shalat di belakang Rasul. Tiba-tiba saya bersin, lalu saya mengucapkan: al-Hamdulillahi Hamdan Kastiran Thayyiban Mubarakan Fihi Kama Yuhibbu Rabbuna wa Yardlah (Segala puji bagi Allah, yaitu pujian yang sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya serta dipenuhi berkah, sebagaimana disukai dan diridlai Tuhan kita). Ketika Nabi selesai shalat, beliau bertanya: Siapa yang berbicara dalam shalat tadi? Karena tidak seorangpun yang berani mengaku, maka Rasul mengulangi pertanyaannya lagi. Dan tetap tidak ada jawaban, maka Rasul bertanya yang ketiga kalinya. Baru Rifa'ah menjawab: Saya wahai Rasulallah, Selanjutnya beliau bersabda: Demi Allah yang nyawa Muhammad di tanganvNya. Puji-pujiian itu telah menjadi rebutan bagi tiga puluh malaikat, agar di antara mereka ada yang beruntung dapat membawanya ke atas”. (HR. an-nasa'i dan at-Turmudzi. Sedangkan al-Bukhari meriwayatkannya dengan menggunakan lafaz berbeda).

6. Sujud Beralaskan Baju atau Sarung yang Biasa Dipakai Karena Kebutuhan


Diterima dari Ibnu Abbas, katanya:

“Bahwasanya Nabi pernah shalat dengan sehelai baju yang ujungnya juga beliau gunakan alas untuk menahan panas dan dinginnya tanah ketika sujud” . (HR. Ahmad dengan sanad yang sahih).

Akan tetapi kalau tidak ada alasan atau tidak diperlukan, maka sujud beralaskan baju dan sarung yang biasa dipakai itu dimakruhkan.

7. Membaca Ayat dengan Melihat Mushaf al-Qur'an


Sesunggunya Dzakwan, hamba sahaya ‘Aisyah apabila ia menjadi imam shalat bersama dengan 'Aisyahdibulan Ramadlan, biasa membaca ayat dengan melihat mushaf. (HR. Malik).

Riwayat tersebut menjadi pendapat madzhab Syafi'i. Dalam hal ini Nawawi menambahkan: Meskipun seseorang terkadang harus membolak-balik halaman mushaf, hal itu tetap tidak membatalkan shalat. Bahkan mungkin seseorang melihat catatan selain al-Qur' an dan diresapi berulang-brrulang di dalam hatinya, shalatnya tetap tidak batal, walaupun dengan waktu lama. Hanya saja hal itu dimakruhkan. Begitulah yang ditulis asy-Syafi'i dalam kitabnya “al-Imla’".

8. Teringat Kepada Hal-hal yang Tidak Berkaitan dengan Pebuatan Shalat


Hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Jika telah terdengar suara adzan, maka setanpun lari terbirit-birit dan mengeluarkan kentut hingga menghalangi seseorang mendengar suara adzan tersebut. Apabila adzan telah selesai, setan itu kembali, dan ketika iqamah dilantunkan ia menyingkir lagi, Akan tetapi setelah iqamah itu selesai ia datang lagi untuk menggoda hati seseorang. Dia berkata: Ingatlah ini dan ingatlah itu! Maka orang yang sedang shalat itupun teringat dengan suatu hal yang sebelumnya tidak ia ingat, hingga ia pun tidak sadar sudah berapa rekaat shalat yang telah dilakukannya. Oleh sebab itu, jika seseorang tidak tahu apakah ia telah melakukan shalat tiga ataukah empat rekaat, maka hendaknya ia sujud dua kali sewaktu duduk”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Al-Bukhari juga meriwayatkan: katanya 'Umar berkata: “Adakalanya saya menyiapkan tentara ketika saya sedang shalat”.

Meskipun shalat seperti itu sudah syah dan mencukupi, tetapi seharusnya orang yang sedang shalat itu menghadapkan hatinya kepada Allah serta melenyap kan segala godaan dengan memikirkan arti ayat-ayat yang dibaca dan meresapi hikmah setiap amalan shalat, karena yang dicatat dari amalan shalatnya adalah apa saja yang keluar dari dalam dirinya dengan penuh kesadaran.

Dalam hal ini, Abu Dawud, an-Nasa'i dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari “Ammar bin Yasir, katanya Rasul bersabda:

“Sungguh, ada seseorang yang telah selesai shalat, namun yang dicatat hanyalah sepersepuluh dari amalan-amalan shalat, atau sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, sepertiganya atau setengahnya”.

Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi bersabda dalam sebuah hadits Qudsi: “Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Shalat yang Aku terima hanyalah dari seseorang yang tunduk terhadap kebesaranku, tidak bersikap sombong kepada makhlukku dan tidak terus-menerus berbuat maksiat kepada-Ku. Waktu siang ia gunakan berdzikir mengingat-Ku dengan menaruh belas kasihan kepada orang miskin, musafir, para janda dan orang yang ditimpa bencana. Orang itu akan bersinar seperti matahari, karena Aku memeliharanya dengan Kemulian-Ku, Aku perintahkan Malaikatku ' untuk menjaganya, Aku memberinya cahaya dalam kegelapan dan memberinya kesabaran untuk menghadapi kebodohan orang. Dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, dia bagaikan surga Firdaus di antara surga-surga lainnya”.

Abu Dawud juga mengeluarkan hadits dari Zaid bin Khalid bahwasanya Nabi bersabda: Barangsiapa yang wudlu dan menyempurnakan wudlunya, kemudian shalat dua reka'at dengan tidak melamun dalam dua amalan tersebut, maka dia mendapat ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu”.

Kemudian hadits riwayat Muslim dari “Utsman bin Abi al-Ash, dia berkata:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya syetan telah mengganggu hatiku ketika shalat dan waktu membaca, sehingga saya jadi bimbang karenanya. Lalu Rasul bersabda: Itulah dia syetan yang sering disebut khanzab. Karena itu, apabila engkau merasakan godaannya, berlindunglah kepada Allah dengan mengucapkan ta'awudz dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali. Kata “Utsman selanjutnya: Lalu aku mengerjakan petunjuk Rasul tersebut, maka Allah melenyapkan godaan itu dariku”.

Ada lagi hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah berkata:

“Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Aku telah membagi bacaan al-Fatihah dalam shalat itu menjadi dua, untuk-Ku dan hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang dimintanya. Jika dia membaca al-Hamdu Lillahi Rabbi al'Alamin, maka Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Jika dia membaca ar-Rahman ir-Rahim, maka Allah berfirman lagi: Hamba-Ku bersyukur kepadaKu. Dan jika membaca Maliki YaumidDin, maka firman-Nya: Hamba-Ku telah memuliakan-Ku dan menyerahkan dirinya kepada-Ku. Jika dia membaca Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta‘in, firman Allah: Inilah batas antara diri-Ku dengan hamba-Ku, dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya. Kemudian bila dia membaca lhdina ash-Shirat al Mustaqim, Shirata alLadzina An ’amta ‘A‘laihim Ghairil alMaghdubi 'Alaihim wala adlDlallin, maka Allah berfirman: Inilah bagian hambaKu, sedangkan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya”.

9. Hal-hal Lain yang Dibolehkan dalam Shalat


lbnu al'Qayyim telah menyimpulkan beberapa Perbuatan mubah dalam shalat yang dikerjakan Rasulullah SAW. Dia berkata: Ketika Rasulullah sedang Shalat, ‘ Aisyah melintang di depannya. ]ika sujud, Nabi menusuk Aisyah dengan tangannya, sehingga “Aisyah menarik kakinya. Bila Nabi berdiri, maka 'Aisyah menaruh kakinya lagi di tempat semula.

Ketika Rasulullah shalat, dia didatangi syetan yang hendak memutuskan shalatnya. Lalu syetan itu ditarik dan dicekiknya sampai air liumya mengalir di tangannya.

Rasulullah pernah shalat di atas mimbar dan rukuk di sana. Apabila hendak sujud, beliau mundur dan turun sampai ke bawah lalu sujud di atas tanah. Setelah itu ia kembali naik ke atas.

Rasulullah pernah shalat menghadap dinding dan menjadikannya tabir. Tiba-tiba datang seekor domba yang mau lewat di depannya. Beliau pun mendesaaknya terus ke depan sampai perutnya hampir menempel dinding dan akhirnya binatang itu lewat di balik dinding.

Ketika Rasulullah sedang shalat, tiba-tiba ada dua orang hamba sahaya dari Bani 'Abdil Muthalib sedang berkelahi. Maka Nabi menarik salah satu dari mereka dan memisahkan keduanya, sedangkan beliau tidak membatalkan shalatnya. Menurut lafadh dari Ahmad: Kedua hamba sahaya itu terseret ke depan Nabi. Maka Nabi memisahkannya, sedang dia masih dalam keadaan shalat. Suatu ketika Rasulullah shalat, tiba-tiba ada seorang anak hendak lewat di depannya, maka beliau memberi isyarat supaya dia kembali, lalu anak itupun kembali. Ada pula seorang hamba sahaya wanita yang hendak lewat di depannya dan beliau memberi isyarat agar dia kembali, tetapi dia tetap terus lewat di depannya. Setelah selesai, beliau bersabda: “Memang wanita itu tidak suka mengalah”. Yang terakhir ini dicantumkan Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya.

Ada juga hadits yang menyatakan bahwa Rasul pernah mengembus-embus dalam shalat. Hal itu disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Tentang hadits yang menyatakan bahwa mengembus-embus itu berarti berbicara, maka hadits itu tidak bersumber dari Nabi. Karena Sa'id dalam Sunan-nya juga meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu 'Abbas dengan catatan: apabila betul-betul syah, maka Rasulullah itu menangis dan mendehem di waktu shalat.

'Ali bin Abi Thalib mengatakan: Ada suatu saat yang mengharuskan aku datang ke tempat Rasulullah. Ketika datang itu, tentu aku minta izin untuk masuk. Apabila beliau shalat, maka beliau pun mendehem, lalu saya masuk Namun apabila beliau tidak sedang shalat, maka beliau akan memberikan izin secara lisan.”

Hadits ini disebutkan oleh an-Nasa'i dan Ahmad. Tetapi lafadh Ahmad menyatakan: Saya mempunyai saat-saat tertentu untuk mengunjungi Nabi, baik malam maupun siang. Jika saya datang kebetulan beliau sedang shalat, maka beliupun akan mendehem. Hadits ini diriwayatkan Ahmad, dan dia berdasarkan hadits ini berpendapat bahwa berdehem tidak membatalkan shalat. Nabi, katanya, juga terkadang shalat dengan kaki telanjang dan terkadang memakai sandal.

Hal ini dikuatkan oleh 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah pernah menyuruh shalat dengan memakai sandal untuk menyalahi kebiasaan orang-orang Yahudi. Rasulullah juga pernah shalat dengan satu kain saja (sarung, pent.) dan juga pernah dengan dua pakaian (baju dan sarung, pent) dan yang terakhir inilah yang sering dilakukan Rasul.

[Sumber Kitab Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq]
Lebih baru Lebih lama