Fikroh.com - "Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak tahu." Demikian potongan ayat surat Al-anbiya ayat 7 yang menjelaskan pentingnya merujuk kepada kalam ulama dalam masalah-masalah yang tidak diketahui. Perkembangan teknologi saat ini sangat membantu kaum muslimin dalam menimba dan meminta fatwa atas setiap persoalan agama langsung kepada ahlinya. Internet menjadi media paling mudah untuk mengambil faidah maupun mengajukan pertanyaan. Banyak situs atau website ulama-ulama robbani yang rekomended untuk dijadikan referensi.

Kenapa kembali kepada ulama penting? Al-'Alamah Abdullah bin Shoolih Alu Basaam rahimahullah diakhir bab tayamum dalam kitabnya yang cukup terkenal "Taisiirul 'Alaam" mengeluarkan faedah yang sayang untuk dilewatkan, kata beliau :

أن المجتهد إذا أدَّاه اجتهاده إلى غير الصواب، وفعل العبادة، ثم تبين له الصواب بعد ذلك فإنه لا يعيد تلك العبادة

"Seorang mujtahid jika hasil ijtihadnya tidak benar dan ia sudah melakukan sebuah ibadah (berdasarkan ijtihadnya), lalu jelas baginya pendapat yang benar (yang tidak sesuai ijtihadnya) setelah itu, maka ia tidak perlu mengulangi ibadah yang telah dilakukannya tersebut".

Faedah ini beliau ambil berdasarkan hadits 'Amaar bin Yasir radhiyallahu anhu yang berkata :

بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana hewan melata yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya". (Muttafaqun alaih).

Dalam hadits diatas bisa kita lihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menyuruh shohabi jaliil 'Amaar radhiyallahu anhu mengulangi sholatnya yang bersucinya dengan tayamum tapi tidak benar caranya, berdasarkan ijtihadnya dengan mengqiyaskan tayamum sebagai pengganti wudhu, dimana debu diusapkan pada sebagian anggota wudhu, sebagai pengganti air, dengan mandi janabah, dimana air harus diratakan ke seluruh tubuh, sehingga dalam benak beliau, tubuhnya setidaknya merata terlumuri debu. Namun setelah dikonfirmasi kepada Rasulullah, ternyata hal tersebut keliru.

Ada sebuah pertanyaan yang masuk kedalam sebuah tim fatwa, dimana inti pertanyaannya adalah bolehkah membayar fidyah dengan uang?, Kalau ternyata tidak boleh, apakah harus mengulangi membayar fidyah lagi, yang dulunya dibayar dengan uang?.

Tim fatwa menjawab dengan pendapat mayoritas ulama berdasarkan riwayat-riwayat tatacara bayar fidyah, semuanya menunjukkan bahwa bayar fidyah itu dengan bahan makanan atau makanan yang sudah masak, tidak sah selain dengan cara ini. kemudian yang barangkali ini tercakup dalam kaedah diatas, tim fatwa melanjutkan jawabannya :

"Yang kedua, jika anda mengeluarkan fidyah dengan uang, berpegang kepada pendapat ulama yang memfatwakan akan kebolehannya, maka tidak harus mengulanginya, namun jika itu berasal dari pendapat pribadimu sendiri, yang wajib adalah mengulanginya lagi (membayarnya dengan makanan)...".

Oleh sebab itu, sangat penting sekali bagi kita sebagai orang awam, untuk berpegang kepada penjelasan para ulama yang kompeten terkait landasan sebuah amalan yang barangkali itu menjadi pertanyaan atau kejadian sehari-hari yang kita dapati, agar kita bisa masuk dalam cakupan doa orang-orang sholih dalam akhir surat Al Baqarah :

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ

"(Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286).

Kemudian permasalahan-permasalahan seputar hukum yang aplikasinya pada zaman modern muncul dengan istilah baru atau sebagian perkara manhajiyyah dengan lahirnya nama-nama kelompok sesat yang muncul pada zaman ini, yang sebenarnya mereka membawa konten keyakinan sekte-sekte sesat yang sudah dibahas oleh para ulama salaf, maka kita butuh kepada penjelasan ulama-ulama yang hidup pada zaman ini, agar kita memiliki pegangan yang bisa dipertanggung jawabkan dihadapan Allah yang Maha Adil lagi Bijaksana.

Prof. DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan Hafizhahullah dalam salah satu kajiannya (https://youtu.be/U2YFZgQEcH0) pernah menyebutkan beberapa ulama yang beliau nilai tepercaya dan amanah didalam menasehati kaum muslimin agar mereka menempuh jalan yang lurus. Ulama-ulama tersebut layak kita mintai fatwa atau kita dengar fatwanya, karena mereka menghabiskan umurnya dalam ilmu, teladan yang baik, ketulusan memberikan nasehat, sifat wara' dan amanah agamanya. Diantara nama-nama tersebut ada yang sudah wafat beberapa tahun yang lalu dan sebagiannya masih hidup dan sudah beruban diatas ilmu dan ketaatan kepada Allah -insya Allah-.

Kemudian di era 4.0, fatwa, pendapat, gagasan dan pemikiran mereka telah didokumentasikan dalam website khusus yang didedikasikan untuk hal tersebut, maka saya mencoba menampilkan link situs resmi para ulama tersebut agar kita bisa merujuk dan berpegang diatas kebenaran.

Situs Ulama Salafi yang sudah wafat :


  1. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Situs resminya : https://binbaz.org.sa/
  2. Mhammad bin Shoolih al-Utsaimin rahimahullah. Situs resminya : http://binothaimeen.net/site
  3. Muhammad Amaan al-Jaamiy rahimahullah. Situs resminya : http://www.assalafia.com/index.php


Situs Ulama salafi yang masih hidup sampai sekarang :


  • Abdul Muhsin bin Hamd al-'Abbad Hafizhahullah. Situs resminya : https://al-abbaad.com/
  • Rabii' bin Hadi al-Madkholi Hafizhahullah. Situs resminya : http://www.rabee.net/ar/
  • Shoolih as-Suhaimiy Hafizhahullah. Fatwa-fatwanya tersebar di twiter resminya : https://mobile.twitter.com/salehalsohaime


Dan tentunya tidak lupa juga asy-Syaikh Shoolih al-Fauzan sendiri sebagai ulama yang amanah dan tepercaya yang menempuh jalannya para salafunaa shoolih -Insya Allah-. Situs resminya : https://www.alfawzan.af.org.sa/en/node/16


Penulis: Abu Sa'id Neno Triyono
Lebih baru Lebih lama