Fikroh.com - Shalat seseorang itu akan batal dan tidak sampai kepada tujuan yang sebenarnya karena dirusak oleh perbutan yang bisa membatalkan shalat. Berikut ini hal-hal yang membatalkan shalat yang harus kita ketahui:

1. Makan dan Minum dengan Sengaja

lbnu Mundzir berkata: Para ahli hukum Islam telah sepakat barang siapa yang makan atau minum dengan sengaja ketika sedang shalat fardlu, maka shalatnya batal dan dia wajib mengulanginya. [1] Demikian pula, menurut jumhur hukum tersebut berlaku juga dalam shalat-shalat sunnat, Karena apa saja yang dapat membatalkan Shalat fardlu, juga akan membatalkan shalat sunnat. [2]

2. Mengatakan Sesuatu yang Tidak Ada Kaitannya dengan Bacaan Shalat Secara Sengaja

Zaid bin Arqam mengatakan:

“Dahulu kami biasa berbicara ketika sedang shalat. Seseorang mengajak teman yang ada di sampingnya berbicara, hingga ada ayat turun: 'Dan tegakkan dirimu dalam menyembah Allah dengan khusyu'. Maka semenjak itu kami diperintahkan diam dan dilarang berbicara”. (HR. al-Jama'ah)

Dan dari Ibnu Mas'ud, katanya:

“Dahulu kami memberi salam kepada Nabi ketika beliau sedang shalat, dan beliau menjawab salam kami. Setelah kami kembali dari Najasyi, kami memberi salam lagi kepadanya (keetika beliau shalat), tetapi beliau tidak menjawabnya. Lalu kami bertanya: Ya Rasulullah, dulu kami memberi salam kepada Anda ketika itu sedang shalat dan Anda pun menjawabnya. Lalu Nabi menjawab: Sesungguhnya didalam shalat itu banyak kesibukan (hingga tidak sempat menjawab salam)”. (HR alfBukhari dan Muslim).

Apabila seseorang berbicara di dalam shalat itu karena tidak mengerti hukum atau karena lupa, maka shalatnya tetap sah. Berdasarkan hadits dari Mu'awiyah bin Hakam as-Sulami, dia berkata:

“Ketika saya sedang shalat bersama Rasulullah, tiba-tiba ada seseorang yang bersin, maka saya ucapkan Yarhamukallah. Lalu orangorang melirik kepadaku, hingga aku berkata: celaka, mengapa kamu semua melihatku. Kemudian orang-orang menepukkan tangan-tangannya di atas paha mereka dengan tujuan ingin menghentikan bicaraku. Saya bermaksud hendak berbicra terus, tapi akhirnya saya diam dan menahan diri. Setelah Rasulullah selesai shalat, sungguh demi bapakku dan ibukku, saya tidak pernah melihat guru yang sebaik beliau dalam mengajar, baik sebelum maupun setelahnya. Demi Allah, beliau tidak berang dan bermuka masam kepadaku. tidak menempeleng dan tidak mencaci makiku, beliau hanya bersabda: Sesungguhnya dalam shalat ini tidak boleh dicampuri oleh sedikitpun perkataan manusia, tapi di dalamnya hanya untuk bertasbih, bertakbir dan membaca al'Qur'an”. (HR ' Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan anaNasa'i).

Dalam hal ini, Mu'awiyah bin alfHakam pernah berbicara ketika shalat karana tidak mengerti hukum, dan Nabi tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalat. Adapun berbicara ketika shalat'karena lupa itu tidak membatalkan shalat berdasarkan hadits dari Abu Hurairah, katanya: “Rasulullah shalat dhuhur atau Ashar bersama kami. Setelah memberi salam, ada seorang sahabat bernama Dzul Yadain bertanya: Apakah shalat tadi diqashar, ataukah anda lupa ya Rasulullah? Jawab Rasulullah: Shalat tidak diqashar dan saya juga tid ak lupa. Dzul Yadain mengatakan lagi: Anda telah lupa ya Rasulullah. Lalu Nabi bertanya kepada sahabat lainnya: Benarkah apa yang dikatakan Dzul Yadain? Benar, kata para sahabat. Kemudian Rasulullah shalat dua rekaat lagi dan sujud dua kali”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Madzhab Maliki membolehkan berbicara dalam Shaht asalkan untuk kepentingan shalat dan menurut kebiasaan tidak terlalu banyak. Dibolehkan juga berbicara apabila seseorang itu tidak mengerti kalau hanya diingatkan dengan tasbih.

Pendapat senada juga diungkapkan Auza'i: 'Barangsiapa berbicara ketika shalat untuk kepentingan shalat, maka shalatnya tidak batal. Misalnya seseorang sedang shalat Ashar, lalu imam mengeraskan suaranya (hamu shalat dibaca jalur), kemudian para makmum mengatakan ini shalat Ashar, maka shalat orang tersebut tidak batal karena berbicara seperti itu”.

3. Banyak Bergerak dengan Sengaja

Para ulama hukum berbeda pendapat mengenai ukuran sedikit atau banyaknya gerakan ini. Ada yang menyatakan bahwa yang disebut banyak bergerak adalah seandainya ada orang yang berada di kejauhan melihatnya, maka orang itu akan menyangkanya bahwa dia tidak sedang shalat. Dan jika sebaliknya, berarti dia dikatakan hanya bergerak sedikit. Atau dikatakan banyak bergerak, apabila orang yang memandangnya itu mengira dia tidak sedang shalat.

Dalam hal ini imam Nawawi berkata: Perbuatan yang tidak termasuk perbuatan shalat, jika banyak dilakukan, maka dapat membatalkan shalat. Tetapi bila sedikit, maka tidak membatalkan. Semua ulama telah sepakat seperti itu, hanya untuk menentukan sedikit atau banyak dalam bergerak mereka terbagi menjadi empat pendapat. Dan imam Nawawi memilih pendapat keempat, katanya: Yang sah dan masyhur adalah mengembalikan persoalan ini kepada kebiasaan yang lazim di tengah masyarakat. Karena itu, yang biasa dianggap bergerak sedikit dalam shalat oleh masyarakat, seperti memberi isyarat ketika menjawab salam, melepas sandal, melepas sorban atau meletakkannya, mengenakan pakaian yang ringan atau melepasnya, mengambil benda kecil atau meletakkannya, menahan orang yang hendak lewat di depannya atau menggosok lendir di baju dan lain-lain, itu semua tidak membatalkan shalat. Akan tetapi, apabila menurut anggapan orang bahwa perbuatan itu termasuk banyak bergerak, seperti banyak melangkah dan berturutturut atau melakukan gerakan yang sambungfmenyambung yang tidak ada kaitannya dengan shalat, maka itu dapat membatalkan shalat.

Lebih lanjut imam Nawawi mengatakan: Para sahabat sepakat bahwa bergerak banyak yang membatalkan shalat itu adalah jika berturut-turut. Karena itu, apabila sesekali saja itu tidak apa-apa, seperti melangkah selangkah kemudian berhenti sebentar, kemudian melangkah lagi dan begitu seterusnya, yaitu gerakan yang dilakukan secara terpisah-pisah. Seandainya langkah itu diulang hingga seratus langkah atau lebih dengan cara terpisah, maka shalat seseorang tidak batal. Adapun gerakan enteng seperti menggerakkan jari untuk menghitung tasbih atau memggosok anggota badan yang gatal atau untuk keperluan lainnya, meskipun dilakukan berturut-turut maka itu tidak membatalkan shalat, hukumnya hanya makruh.

Imam Syafi'i menambahkan bahwa seseorang yang menghitung-hitung bacaan ayat dengan cara mengenggam tangannya, maka shalatnya tidak batal, hanya sebaiknya hal itu ditinggalkan.

4. Sengaja Meninggalkan Suatu Syarat atau Rukun. Tanpa Alasan

Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh alfBukhari dan muslim, bahwa Nabi. SAW bersabda kepada seorang muslim Badui yang tidak menyempurnakan shalatnya:

“Ulangilah shalatmu, karena sebenarnya kamu belum dikatakan shalat”.

lbnu Rusyd berkata: Semua ulama sepakat bahwa shalat yang dilakukan tanpa thahamh, baik karena tidak sengaja atau karena lupa, shalamya wajib diulangi. Begitu juga bila tidak menghadap kiblat. Ringkasnya, orang yang melalaikan salah satu dari syarat-syarat shalat, maka dia harus mengulangi shalatnya.[3]

5. Tertawa

lbnu al-Mundzir menyatakan bahwa shalat Itu, menurut kesepakatan ulama, batal disebabkan tertawa, Lebih tegas Nawawi menambahkan: Pendapat tersebut dimaksudkan kalau tertawa ketika itu sampai mengeluarkan dua huruf dengan jelas.

Menurut jumhur ulama, tersenyum itu tidak membatalkan shalat. Sedangkan orang yang tidak bisa menahan tawanya, kalau hanya sedikit, tidak mem' batalkan shalat. Tapi kalau tawanya banyak, dapat membatalkan shalat. Ukuran sedikit atau banyak itu berdasarkan kepada kebiasaan yang lazim berlaku dalam masyarakat.


[Sumber : Kitab Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq jilid 1]
-------------------

Catatan Kaki :
[1] Madzhab asnyyafi'i dan Hambali berpendapat bahwa shalat seseorang tidak batal bila dia makan atau minum karena tidak sengaja atau lupa. Begitu pula tidak batal bila berupa sisa'sisa makanan yang ada di sela»sela gigi lalu ditelan.
[2] Menurut Thawus dan Ibnu Ishak, dalam shalat sunnat dibolehkan minum, karena itu hanya pekerjaan enteng. Dan diriwayatkan dari Said binJabir dan Ibnuazlubair, bahwa mereka pernah minum ketika melakukan shalat Thathawwu'.
[3] Tambahan: Orang yang sedang shalat diharamkan melakukan halvhal yang dapat membatalkan shalat tanpa alasan dan udzur. Tetapi apabila ada suatu sebab, misalnya menolong orang yang ditimpa bencana, membebaskan orang yang akan tenggelam dan lainolain, dia wajib memutuskan shalatnya. Sementara madzhab Hanafi dan Hambali menambahkan boleh juga memutuskan shalat Apabila khawatir kehilangan harta, meskipun sedikit. Begitu juga sebabsebab lainnya, misalnya seorang ibu yang anaknya mengaduh kesakitan, khwatir anaknya tertumpah periuk panas, seorang yang takut kendaraannya hilang atau sebab-sebab lainnya.
Lebih baru Lebih lama