Islam dan kepemimpinan

Fikroh.com - Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Sempurna dalam arti mudah diamalkan dan seteril dari kekurangan dan cacat. Menyeluruh dalam arti mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dari hal-hal kecil apalagi perkara yang urgen.

Lalu bagaimana islam mengatur soal kepemimpinan? Tentu islam memberikan porsi yang besar dalam mengatur soal kepemimpinan. Dan menjelaskan dengan detail dari proses awal hingga akhir. Nah pada tulisan ini akan mengupas kepemimpinan dalam islam dan apa saja kriteria pemimpin dalam islam. Selamat menyimak!

Definisi Kepemimpinan


Kepemimpian dalam islam disebut imamah, yang dimaksud imamah adalah kepemimpinan agung/kekuasan besar. Bisa juga disebut khilafah atau imarah mukminin yaitu kepemimpinan yang luas dalam perihal agama dan dunia, sebagai pengganti Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka dari itu, tugas seorang imam adalah membawa sekelompok masyarakat sejalan dengan persepsi syariat dalam hal kemaslahatan mereka secara ukhrawi dan duniawi sebagai pedoman.

Dari sini jelas ada perbedaan antara khilafah syar’iyyah dan aturan-aturan yang berlaku saat ini dalam perundang-undangan negara yang mana terbatas pada pengaturan hubungan-hubungan kemasyarakatan, meskipun hal itu bertentangan dengan agama atau kebaikan.

Hukum Kepemimpinan Dalam Islam


Pendapat para ulama yang rajih adalah bahwasanya imamah adalah perkara wajib.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Semua Ahlussunnah, Murjiah ,Syiah, dan Khawarij sepakat dalam hal wajibnya imamah. Dan bahwa umat wajib tunduk serta patuh kepada imam yang adil dan menegakkan hukum-hukum Allah untuk mereka, dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.”

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Harus diketahui bahwa adanya suatu pemerintahan yang mengatur urusan manusia adalah kewajiban agama yang paling besar, bahkan tidak akan tegak suatu agama melainkan dengan adanya pemerintahan. Tidak akan sempurna kemaslahatan bani adam tanpa adanya komunitas, karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Di dalam suatu komunitas harus ada seorang pemimpin, sampai-sampai Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, berpesan,

إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمر أحدهم

“Jika ada tiga orang yang melakukan perjalanan, maka harus ada salah satu dari mereka yang mengepalai”

Dalil Al-Qur’an

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. An-Nisa’:59)

Allah mewajibkan kepada manusia untuk menaati para pemegang kekuasaan. Hal ini mengarahkan pada wajibnya adanya kepemimpinan diantara kita.

Dalil as-Sunnah

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

اسمعوا و اطيعوا و إن تأمر عليكم عبد حبشي

“Dengarkanlah dan taatilah meskipun orang yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyah.”

Dalil Ijma

Bahwasanya para sahabat dan tabi’in menyepakati wajibnya imamah, bahkan mereka bersegera memilih khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Dalil Qiyas

Yang menyebutkan bahwa pemegang kepemimpian harus ada, dan jika mereka tidak mewujudkannya pastilah akan terjadi kekacauan (chaos), dan mereka bisa kehilangan hak-hak mereka. Seluruh peraturan, keamanan dan stabilitas tidak akan tercapai kecuali dengan adanya pemimpin.

Kaum muslim harus memiliki seorang imam yang menerapkan hukum-hukum pada mereka, menegakkan hukum bagi mereka, memutuskan persengketaan, mempersiapkan pasukan, menarik sedekah-sedekah, menundukkan orang-orang yang bertikai, para pencuri, dan perampok, mengadakan perkumpulan dan perayaan-perayaan, melerai perselisihan yang terjadi diantara manusia, menerima kesaksian-kesaksian yang menuntut hak-hak, menikahkan anak-anak yang tidak memiliki wali, dan membagikan ghanimah (rampasan perang).

Sistem Pemilihan Imam


Ada banyak cara yang bisa digunakan dalam pengangkatan seorang imam, sebagaimana dalam penjelasan berikut ini:

Pertama: Penentuan dengan Istikhlaf (memilih seorang pengganti)

Metode ini disebut juga dengan wilayah al-‘ahdi yaitu imam yang ada mengamanahkan kepada orang lain yang dia tentukan, atau menyebutkan sejumlah sifat tertentu untuk menggantikannya setelah dia meninggal baik orang tersebut dekat atau jauh, dengan syarat orang tersebut memiliki syarat-syarat khilafah, dan sempurnanya bai’at umat muslimin terhadapnya.

Pengamanahan dengan cara istikhlaf dikuatkan dengan pengabdian para sahabat tanpa adanya pengingkaran. Abu Bakar pun mengamanahkan Umar bin Khattab setelahnya, lalu Umar bin Khattab mengamanahkan pada dewan syura’ untuk memilih salah satu dari mereka, hal itu telah terpenuhi dan mereka memilih Utsman bin Affan, ini bukan dalam artian bahwa khilafah tidak diwariskan.

Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada perdebatan diantara siapaun dari pemeluk Islam bahwa tidak boleh saling mewarisi dalam hal kepemimpinan.”

Kedua: Pengesahan Kepemimpinan dengan Penaklukan

Jika seseorang menang dan mememegang jabatan imamah dengan kemenangan dan penaklukan maka dia menjadi imam bagi semua orang. Kita tidak boleh menentangnya kecuali jika kita mengetahui bahwa dia kafir secara terang-terangan. Tidak berarti bahwa cara pemilihan seperti ini adalah cara yang disyariatkan karena sistem ini bertentangan dengan hukum aslinya yang mengharuskan khilafah melalui pemilihan dan pembaiatan. Akan tetapi kita mengangkatnya untuk mengayomi agar dapat mencegah bahaya yang terjadi seperti pertumpahan darah. Kita wajib menaatinya untuk mencegah kerusakan-kerusakan, baik dia di-bai’at oleh ahlu al-aqdi wa al-hilli(dewan parlemen) atau tidak.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Semua ulama fikih menyepakati tentang kewajiban menaati sultan yang berkuasa dan berjihad bersamanya. Bahwa menaatinya lebih baik daripada memisahkan diri darinya, agar dapat mencegah pertumpahan darah, menenangkan masyarakat. Tidak ada pengecualian pada siapapun kecuali jika sultan menunjukkan dengan jelas bahwa dia kafir. Tidak boleh menaatinya jika seperti itu, bahkan harus melawannya bagi orang yang mampu untuk melawannya sebagaimana dalam hadits yang akan disebutkan setelah ini.

Menurut saya, beliau mengatakan tentang hadis Bukhari yang diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit,

إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان

“Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, kalian telah memiliki bukti tentang ini.”

Ketiga: Pengesahan Kepemimpinan dengan Baiat

Maksudnya adalah kaum muslim memilih seorang khalifah dan kemudian membaiatnya. Jadi terjadinya suatu perjanjian antara dua pihak, yaitu hakim dan yang kedua adalah seluruh rakyat.

Sistem ini tercapai dengan pemilihan yang dilakukan oleh ahlu al-hilli wa al-aqdi terhadap orang yang mereka pandang paling utama diantara semua orang dan paling sempurna dalam hal kepemilikan syarat-syarat khalifah dan kemudian membaiatnya. Sedangkan yang lainnya mengikuti pembaitan yang dilakukan oleh ahlu al-hilli wa al-aqdi. Dan dengan itu cukup untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka berada di bawah kepemimpinannya.

Ahlu al-hilli wa al-aqdi adalah kumpulan ulama khusus yang memiliki syarat-syarat dan sifat-sifat yang menjadikan mereka layak untuk perkara tersebut. Syarat-syarat tersebut adalah:

Adalah, Ilmu, pemikiran yang kritis, dengan kata lain mereka memiliki kemampuan yang tinggi.Adalah maksudnya adalah suatu kelebihan yang dapat membawa pemiliknya pada derajat ketakwaan. Ilmu adalah yang bisa mengantarkannya untuk mengetahui syarat-syarat yang dibutuhkan dari seorang imam. Sedangkan pemikiran yang kritis adalah pemikiran yang dapat membawanya memilih yang paling baik dan paling kuat untuk umat.

Mawardi dalam buku al-Ahkam as-Sulthaniyyah menyebutkan, “Jika ahlu al-aqdi wa al-hilliberkumpul untuk memilih, mereka menyelediki dengan teliti kondisi-kondisi para calon pemimpin yang terpenuhi syarat-syarat. Mereka mengajukan orang yang paling baik diantara mereka, paling mencukupi syarat-syaratnya di antara mereka, dan yang membuat orang dengan cepat menaatinya sehingga tidak ada keraguan untuk membaiatnya. Jadi jika sudah jelas bagi mereka siapa diantara rakyat yang mereka pilih melalui ijtihad, maka mereka menunjuknya. Jika dia menerimanya maka langsung membaiatnya, dan mengesahkannya sebagai pemimpin. Seluruh rakyat diharuskan turut serta dalam membaiatnya dan berjanji untuk menaatinya. Apabila dia menolak menjadi pemimpin dan tidak menerimanya maka tidak ada paksaan baginya. Hal ini dikarenakan akad imamah adalah akad dengan keridhaan dan pilihan, tidak dibenarkan dengan paksaan. Jika demikian maka dialihkan pada orang lain yang pantas menjadi pemimpin.

Perhatian: Syiah berpendapat bahwa imamah dengan nash karena itu Allah harus memberi perlindungan. Mereka menganalogikan imamah dengan kenabian, dengan alasan bahwa Imam adalah orang yang dipercaya Allah diantara makhluknya seperti rasul-rasul-Nya yang mana adalah kepercayaan-Nya atas hamba-hamba-Nya. Mereka cukup ekstrim dalam permasalahan kepemimpinan ini sampai berkeyakinan bahwa hal tersebut merupakan salah satu rukun agama dan kaidah Islam, dan para pemimpin semuanya maksum. Mereka berbeda dalam hal itu karena nash tentang kepemimpinan adalah milik Ali bin Abi Thalib, sehingga mereka menuntut semua sahabat Nabi dan mencela mereka karena mereka memilih Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman. Bersamaan dengan itu mereka berkeyakinan bahwa imam yang kedua belas tidak menunjukkan diri dan berada di terowongan yang trsembunyi dari penglihatan. Ini termasuk dari kontradiksi, sebab bagaimana bisa dikatakan hal itu termasuk dari perlindungan, sedangkan mereka tidak menunjukkan diri, tidak cakap, dan tidak mampu.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Pedoman sekte-sekte ini adalah hadits-hadits palsu dan dusta.”

Syarat-Syarat Pemimpin (Imam)


Seorang khalifah atau pemimpin harus memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Termasuk orang yang cakap dalam memimpin. Dia adalah seorang muslim, merdeka, laki-laki, baligh, dan berakal.
  2. Al-adalah yaitu jujur, amanah, terjaga dari hal-hal yang haram, menjauhi perbuatan-perbuatan dosa, jauh dari keraguan, dan terjaga dari kemarahan.
  3. Ilmu. Dia memiliki ilmu pengetahuan yang dia butuhkan untuk berijtihad dalam setiap permasalahan yang terjadi dari beragam peristiwa. Dia mengetahui Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas, mengetahui keadaan-keadaan masanya dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jika dia kurang mampu dalam hal keilmuan maka dia wajib memiliki orang kepercayaan yang menekuni ilmu tentang syariat Allah”
  4. Bijak dalam berpikir yang melahirkan kebijaksanaan merakyat mengurus kemaslahatan.
  5. Memiliki keistimewaan sejumlah sifat-sifat berkepribadian seperti keberanian, melawan musuh, menegakkan hudud, melindungi orang-orang yang terzalimi dan melaksanakan hukum-hukum.
  6. Kecakapan jasad, yaitu indra dan anggota tubuhnya normal.
  7. Orang Quraisy, ini merupakan pendapat ahlu sunnah wal jama’ah sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

الأئمة من قريش

“Pemimpin berasal dari Qurays”

dan perkataan beliau,

الناس تبع لقريش في الخير و الشر

“Semua orang mengikuti Quraisy dalam hal kebaikan dan keburukan”,

juga perkataan beliau,

الناس تبع لقريش في هذا الشأن مسلمهم لمسلمهم و كافرهم لكافرهم

“Semua orang mengikuti Quraisy dalam urusan ini, muslim mereka dengan yang muslim, dan kafir mereka dengan yang kafir”.

Dari Muawiyyah bin Abu Sufyan berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

إن هذا الأمر في قريش, لا يعاديهم أحد إلا كبه الله في النار على و جهه ما أقاموا الدين

“Sesungguhnya urusan ini adalah urusan bangsa Quraisy, jangan seseorang menentang mereka melainkan Allah akan memasukkannya ke neraka selama mereka menegakkan agama”

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لا يزال هذا الأمر في قريش ما بقي منهم اثنان

“Urusan ini masih untuk orang Quraisy selama masih tersisa dari mereka dua orang”

Al-Hafizh rahimahullah berkata, “Karena itulah semua ahli ilmu berpendapat bahwa syarat seorang imam haruslah dari bangsa Quraisy”

Iyadh berkata, “Persyaratan seorang Imam dari bangsa Quraisy adalah pendapat seluruh ulama, mereka juga telah mengkategorikannya sebagai permasalahan ijma’. Tidak ditemukan satupun perselisihan dari ulama-ulama terdahulu, begitu juga dari ulama-ulam setelahnya di semua penjuru.

Hal ini juga tidak bertentangan dengan hadis yang dituturkan oleh Anas radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

اسمعوا و أطيعوا, وإن استعمل عليكم عبد حبشى كأن رأسه زبيبة

“Dengarkanlah dan taatilah, meskipun yang dipercaya atas kalian adalah seorang budak Habasyah yang kepalanya seperti kismis’.

Karena dua hadits tersebut dapat digabungkan, bahwa pemimpin dari bangsa Quraisy jika dengan cara metode pemilihan, dan pemilihan dari budak Habsyi jika dengan cara pemenangan dan penundukan.

Atau dikatakan, “Mengenai pemimpin tertinggi, jika kepemimpinan negara dipegang seorang budak habsyi maka tetap wajib menaatinya, dan tidaklah seorang budak habsyi menjadi imam besar”

Penulis berkata: Sebagaimana pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa jika yang menjadi pemimpin khilafah bukan berasal dari bangsa Quraisy maka tetap wajib menaatinya meskipun dengan cara terpaksa dan penaklukan.
Lebih baru Lebih lama