Fikroh.com - Di antara hadits Nabawi yang penting untuk dipahami oleh kaum muslimin adalah hadits tentang rusaknya kemunkaran dan perbuatan bid'ah. Hadits ini bahkan sangat penting karena akan menuntun kita untuk kembali kepada syariat yang murni dan menjauhi perbuatan bid'ah munkarah. Dengan memahami hadits ini sesuai dengan penjelasan ulama yang hanif.

Redaksi hadits

Terjemah: Dari Ummul Mu'minin Ummu Abdillah Aisyah radiyallahu 'anha, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ''Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini apa-apa yang bukan berasal darinya, maka perbuatan tersebut tertolak'." Hadits riwayat al-Bukhari & Muslim.

Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab ash-shulh, bab اذااصطلحوا على صلح جور فالصلح مردود hadits nomor 2550. Dalam riwayat muslim terdapat dalam kitab الاقضية Bab نقش الاحكام الباطلة ورد محدثات الامور، Hadits nomor 1718.

Urgensi Hadits

Hadits ini merupakan pokok ajaran agama islam yang agung. Sebagaimana hadits tentang niat merupakan timbangan (tolok ukur) untuk amalan bathiniyah. Dalam arti penentu diterima sebuah amalan. Karena setiap amalan tanpa mengikhlaskan niat karena Alloh tidak mendapatkan pahala sedikit pun. Maka hadits ini menjadi tolok ukur amal dzohiriyah, dalam arti setiap amalan yang dikerjakan tanpa ada tuntunan dari Alloh dan rasulnya tertolak. Dengan demikian komparasi hadits tentang niat dan hadits tentang ittiba' merupakan syarat diterimanya amal.

Komentar para ulama

Imam An-nawawi berkata: Hadits ini penting untuk dihafalkan oleh kaum muslimin dan menjadi bukti dalam membrantas kemunkaran.

Sedangkan Ibnu Hajar Al-Haitami berkata: Hadits ini merupakan pondasi dasar ajaran islam dan mengandung manfaat yang sangat luas dari sisi tekstualnya. Karena dari hadits inilah menjadi landasan global yang menghasilkan hukum-hukum syar'i.

Kandungan hadits

1. Islam agama tuntunan bukan karangan

Dengan hadis ini Nabi Muhammad SAW telah menjaga agama islam dari tindakan ekstrimis (ghulluw) dan penyimpangan. Hadits ini disandarkan kepada ayat-ayat Qur'an yang sangat banyak. Untuk meraih keselamatan dunia akhirat tidak akan tercapai kecuali dengan mengikuti petunjuk Nabi tanpa menambah-nambahi.

2. Amalan yang tertolak

Redaksi dalam hadits ini sangat jelas berbicara soal tertolaknya amalan yang tidak ada perintahnya dalam agama. Dan kewajiban manusia untuk berhukum hanya dengan hukum Alloh dengan menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Kesesatan adalah jika jika amalan yang dikerjakan keluar dari petunjuk syariat.

3. Amalan yang diterima

Ada banyak amalan dan perkara muhdats (baru) namun tidak bertentangan dengan hukum syariat, bahkan terdapat banyak dalil dan landasan yang menguatkannya maka tidak mengapa dikerjakan dan bisa diterima. Para sahabat telah mempraktekannya dan mereka sepakat akan diterimanya hal itu. Contoh yang paling gambalang adalah tindakan Abu Bakar menyusun Al-Quran menjadi satu mushaf. Contoh lain seperti ilmu nahwu, faraidh, tafsir dan ilmu sanad dan matan hadits. Jika dicermati disiplin ilmu-ilmu diatas sangat membantu dalam memahami sumber-sumber hukum agama. Maka dalam hal ini meskipun tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah tidak termasuk bid'ah.

4. Hadits ini sering dijadikan pembelaan penyimpangan ahlul bid'ah dengan mengatakan : "kami tidak mengerjakan sesuatu yang baru". Namun argumen ini dibantah dengan hadits riwayat muslim yang dalam redaksinya berbunyi "man 'amila 'amalan" bukan "man ahdatsa"

5. Setiap orang yang mengada-ada dalam urusan agama yang bertentangan dengan syariat maka dosanya ditanggung dirinya. Amalannya ditolak dan pelakunya berhak mendapat ancaman (siksa).

6. Hadits ini mengandung pelajaran bahwa setiap perbuatan yang dilarang oleh syariat pasti karena akan mendatangkan mafsadat.

7. Islam merupakan agama yang sempurna tanpa ada cacat sedikitpun.

Demikian penjelasan singkat dari hadits arbain nawawiyyah hadits tentang ابطال المنكرات والبدع dengan Syarh Al-Wafie Syaikh Mushtofa Al Bugha. Semoga bermanfaat. Wallohu alam.
Lebih baru Lebih lama