Fikroh.com - Sesungguhnya, menjadi kewajiban kita untuk menerapkan apa yang kita yakini sebagai suatu kebenaran. Kewajiban kita adalah mencurahkan segala potensi untuk menjadi agen perubahan dan perbaikan diri dalam bingkai berdakwah ilalloh. Begitu juga kewajiban untuk menjadikan dakwah senantiasa hidup di dalam hati dan akal kita, mengalir mengikuti peredaran darah dan nadi kita. Maka, hendaklah dakwah memenuhi seluruh relung jiwa kita.

Namun besarnya misi dakwah yang kita emban ada baiknya sebelum mulai berdakwah, terlebih dahulu kita pahami mengenai waqi' (keadaan) umat Islam yang akan menjadi objek dakwah kita (mad'u). Sengaja, pembicaraan ini hanya dibatasi lingkup dakwah kepada orang Islam. Faktanya tidak sedikit umat islam yang masih jauh dari kriteria seorang muslim ideal, karenanya kita ingin membawa mereka dari keadaan yang serba terbatas itu (dalam pemahaman keislaman, dalam beramal, sikap ekstrim, dan lain-lain) kepada pemahaman Islam yang sempurna dan benar, menyeluruh dan bersih, seperti saat dibawa oleh Rasulullah saw. Juga mengajak mereka agar berubah menjadi orang yang memiliki pengetahuan tentang semua tuntutan Islam dan mengetahui bagaimana cara merealisasikannya dengan cara yang paling sempurna dan benar.

Dengan sedikit melakukan kajian dan analisa tentang realita kondisi masyarakat kita, kita dapati bahwa umat berada pada posisi kelemahan dan pengendapan iman di dalam jiwa mereka ditambah dengan ketiadaan pengetahuan yang benar tentang hakikat agama ini dan diperparah lagi oleh ghazwul fikri (perang pemikiran) inilah penyebab utama keadaan critical (gawat) yang dialami oleh mayoritas umat islam. Hal ini memudahkan musuh-musuh Allah mengelabuhi sebagian orang Islam untuk menjadi alat perusak agamanya sendiri, baik disadari atau tidak.

Menunggu kesadaran, pergerakan, usaha dan peran serta orang-orang seperti itu hanya sia-sia belaka, jika keimanan dalam jiwa mereka tidak dibangkitkan terlebih dahulu. Hanya kebangkitan imanlah yang akan memicu dan memacu semangat mereka untuk memiliki pengetahuan, gerakan, dan perjuangan demi peningkatan diri mengikuti tahapan-tahapan para pelaku dakwah yang shalih menuju pribadi muslim yang ideal.

Kami perlu ingatkan -semoga bermanfaat- bahwa menepati aturan dan disiplin dalam amal dakwah sesuai dengan tahapan-tahapannya adalah satu keharusan, agar tidak menyebabkan keputusasaan dan lari dari jalan dakwah. Dakwah berawal dari pendekatan kepada pribadi yang sedang lupa diri dan tenggelam dalam kesia-siaan. Kita ajak orang ini dari satu tahapan dakwah ke tahapan yang lain (perkara ini akan dibicarakan pada bab yang menjelaskan tentang cara memulai dakwah kepada mad'u yang seperti itu). Bagaimanapun, sebenarnya masih ada orang-orang yang lebih baik keadaannya dan lebih cepat menyahut seruan dakwah daripada orang pertama tadi, maka sebaiknya kita dahulukan mereka, demi efisiensi waktu dan tenaga.

Sesungguhnya orang-orang Islam yang sibuk dengan dunia dan lalai dad kewajiban beribadah kepada Allah, tidak berbeda dengan mereka yang sedang tenggelam dalam kenyenyakan tidur. Padahal, ada kobaran api yang sedang menjalar ke arah mereka. Jika mereka tetap dibiarkan, api itu pasti akan membakarnya juga.

Bagaimanapun, di antara mereka yang sedang tidur nyenyak, ada juga yang segera tersadar dan terjaga, akan tetapi ia tidak kuasa menghalangi kobaran api yang terus menjalar kepada mereka yang masih tidur. Dalam kondisi seperti ini, kewajiban yang harus dilakukannya adalah membangunkan mereka yang masih tidur agar menyadari apa yang sedang terjadi agar ia segera menyelamatkan diri. Segala usaha yang dilakukan untuk memperingatkan mereka hanya sia-sia belaka, jika mereka tidak benar-benar dibangunkan dari tidurnya. Tentu dalam keadaan tidur nyenyak, mereka tidak akan mendengar, apalagi menanggapi segala peringatan. Jadi, tugas pertama da'i adalah membangunkan sebelum memperingatkan!

Memang, karena sudah terlanjur nyenyak dalam keenakan tidur, seringkali orang susah dibangunkan karena, ia lebih memilih untuk terus mendengkur. Maklumlah, ia belum sadar sepenuhnya terhadap apa yang sedang terjadi. Jika sadar dan tahu betul ada kobaran api di dekatnya, ia pasti akan lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Sekedar dikatakan bahwa ia sudah bangun, belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan pergerakan dan perjuangan untuk menyelamatkan diri. Demikianlah keadaan seorang da'i dengan mereka yang diserunya ke jalan Allah. Ia harus sabar dan terus mengajak mereka, bahkan siap menanggung konsekuensi apa pun yang menimpanya, baik berupa cacimaki atau pun siksaan lain yang lebih menyakitkan. Semua itu diserahkan hanya kepada Allah untuk memberi balasan, seperti contoh yang amat baik yang diberikan oleh teladan kita Rasulullah saw. yang kita cintai. Beliau senantiasa berdakwah walaupun ditimpa dengan berbagai pengalaman pahit, pedih, menyakitkan, bahkan upaya pembunuhan.

Rasulullah saw. bersabar dan tetap meneruskan dakwahnya. Bahkan beliau berdo'a ( meskipun disakiti), “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka adalah kaum yang tidak mengetahui (kebenaran)!” Mengikuti teladan Nabi dari do'a tersebut, Imam Al-Banna pernah berpesan kepada anggota Ikhwanul Muslimin, “Terhadap sesama manusia, jadilah kalian laksana pohon, mereka melemparinya dengan batu tetapi pohon itu malah membalas lemparan mereka dengan buahnya."
Lebih baru Lebih lama