Fikroh.com - Kesehatan bukan segalanya, namun tanpa kesehatan segalanya tak berarti apa-apa. Demikian penggalan kata-kata bijak yang sering kita dengar. Memang benar kesehatan bukan segala-galanya, karena faktanya banyak orang yang secara fisik lemah atau bahkan sakit namun tidak menyurutkan semangatnya dalam menebar kebaikan dibandingkan orang yang secara fisik sehat dan kuat.

Namun juga tidak menutup mata bahwa kesehatan juga menjadi faktor penting untuk menunjang dalam melakukan kebaikan dan ibadah. Oleh karena itu islam sangat mendorong ummatnya agar senantiasa menjaga kesehatan agar tercapai kesempurnaan ibadah.

Diantara perintah agama dalam menjaga kesehatan adalah seperti penjelasan Imam Ibnulqayyim sebagai berikut:

وأصول الطب ثلاثة: الحِمية، وحفظ الصحة، واستفراغ المادة المضرة، قد جمعها الله تعالى له ولأمته في ثلاثةَ مواضع من كتابه، فحمى المريض مِن استعمال الماء خشيةَ من الضرر

"Prinsip dari pengobatan ada tiga; Al-Himyah (yaitu pencegahan), dan menjaga kesehatan (yang sudah ada), dan mensterilkan benda yang membahayakan, Allah Ta’ala telah menggabungkan semua itu untuk Nabinya dan ummatnya dalam tiga tempat dalam Kitab-Nya."

Dalam hal pencegahan, syariat telah mengatur bolehnya orang yang sakit tidak menggunakan air untuk bersuci karena khawatir tertimpa madhorot (bahaya), dan sebagai gantinya menggunakan debu sebagai tayamum. Allah berfirman;

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا

“Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); (QS; Annisa 43)

Dan lebih jelas lagi Allah menekankan dalam urusan menjaga kesehatan; “

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ

“Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS: Al-Baqarah 184)

فَأبَاحَ للمسافر الفطرَ في رمضان حفظاً لصحته، لئلا يجتمع على قوته الصوم ومشقةُ السفر، فَيضعَفُ القوة والصحة

Maka Allah telah membolehkan bagi orang yang musafir untuk tidak berpuasa dalam Ramadlan karena demi menjaga kesehatannya, agar kemampuannya untuk berpuasa tidak menyatu dengan kesusahan yang ada ketika musafir, sehingga jika hal itu menyatu dalam satu aktu maka dapat melemahkan kekuatan dan kesehatan.

Dan Allah berfirman terkait metode pensterilan dalam perintah mencukur rambut bagi orang yang berihram :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِه اَذًى مِّنْ رَّأْسِه فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍ

“Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban. (QS: Al-Baqarah 196)

فَأبَاح للمريض وَمَن به أذى من رأسه وهو مُحرِم أن يحلق رأسه، ويستفرِغ المواد الفاسدة، والأبخرة الرديئة التي تولد عليه القَملَ، كما حصَل لكعب بنْ عُجْرَةَ، أو تُولد عليه المرض وهذه الثلاثة هي قواعد الطب وأصوله

Maka Allah telah membolehkan orang sakit dan orang yang terdapat sakit di kepalanya dan dia dalam keadaan Ihram untuk mencukur rambutnya, dan mensterilkan materi-materi yang merusak, dan uap-uap buruk yang kutu bisa lahir darinya, Sebagaimana yang telah terjadi atas Ka’b bin ‘Ujrah, atau penyakit menimpa atas dirinya. Dan tiga hal ini adalah kaedah pengobatan dan pokoknya. (Zaadul-Ma’ad 1/165)

Dan ini juga tercermin dalam hadits, Nabi ﷺ pernah bersabda:

عَنِ ابْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا، أَوْ يَمْشِي لَكَ إِلَى جنازة

Dari Ibnu ‘Amr beliau berkata; “Nabi ﷺ pernah bersabda ; “Apabila seorang lelaki menjenguk orang sakit, maka hendaklah ia membaca; “Ya Allah sembuhkanlah hambamu agar ia bisa membasmi demi-Mu akan musuh, atau berjalan demi-Mu untuk shalat janazah”. (hadits riwayat Abu Daud no.3107, Syaikh Al-Albaniy rahimahullah menilainya Hasan dalam Silisilah Ash-Shahihah No.1365)

Hadits ini menunjukkan bahwa kesehatan adalah penunjang paling dasar untuk dapat melaksanakan ibadah dan menunjukkan betapa pentingnya kesehatan, sehingga Nabi ﷺ mengajarkan kita mendoakan kesehatan bagi orang sakit.

Wasilah untuk menjaga kesehatan adalah dengan berolahraga, dan olahraga hukumnya mengikuti tujuan dari orang yang berolahraga, dan sebagian jenis olahraga tidak dikenal pada zaman salaf, seperti main futsal, sepeda, dan bulu tangkis, namun ini bukan penghalang untuk boleh melakukan olahraga-olahraga tersebut, sebab olahraga adalah perkara duniawi yang hukumnya halal dan boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat islam.

Sehingga penting bagi seorang muslim mengetahui adab-adab berikut ini agar aktivitas berolahraganya tidak menyalahi tuntunan Islam:

  1. Menjadikannya sebagai wasilah untuk menjaga kesehatan agar bisa beribadah kepada Allah dengan lebih baik, lebih khusyuk, dan agar dapat memenuhi kewajiban memberi nafkah lahir dan batin kepada keluarga. Betapa banyak perkara dunia dengan niat yang baik menjadikan perkara itu terpuji dan berpahala karena niat yang baik.
  2. Tidak ada unsur yang terlarang dalam olahraga tersebut, seperti rukuk kepada manusia, membahayakan nyawa, memukul ke wajah, membuka aurat, dan perjudian. Semua hal ini adalah perkara-perkara yang terlarang dalam syariat kita, maka wajib menghindarinya saat berolahraga.
  3. Tidak menginfakkan harta secara berlebih untuk olahraga tersebut, sehingga ia terjatuh ke dalam sikap Israf, hendaknya ia mengalokasikan hartanya secara adil.
  4. Tidak membuat dirinya lalai dari ketaatan dan ibadah kepada Allah, dan tanggung jawab dirinya atas hak-hak orang lain, dan perkara-perkara penting dan utama.

Demikian uraian tentang adab berolah raga menurut islam. Jadikan kebiasaan olah raga untuk menjaga kesehatan dan raih pahala dengan niat dan mengikuti adab-adabnya. Semoga bermanfaat.

Source: Teduh.or.id
Lebih baru Lebih lama